Hadis Teologi

Latihan 2

Hadis Tentang Doa Adalah Iman

oleh : Linatun Nafisah, Diny Nurbaeti, Asep Sobari

BAB II

PEMBAHASAN

كِتَابُ الْاِيْمَانِ

( Kitab Tentang Iman )

  1. بَابُ دُعَاؤُكُمْ اِيْمَانُكُمْ

Bab 2 : Doa Kalian Adalah Iman Kalian

حَدَّثَنَا عُبَيْدُاللهِ بن مُوْسَي قَالَ : اَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بن اَبِي سُفْيَانَ, عَنْ عِكْرِمَةَ بن خَالِدِ, عَنْ اِبْنُ عُمَرْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ .ص.م. : بُنِيَ الْاِسْلَامُ عَلَي خَمسٍ : شَهَادَةِ أنْ لَا أِلهَ اِلاَّ الهُ, وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ , وَاِقَامِ الصَّلَاةِ , وَاِيْتَاءِ الزَّكَاةِ, وَالْحَجِّ, وَصَوْمِ رَمَضَانَ[1]

(الحديث 8- طرفه في : 4515 )

  1. Terjemah

Diceritakan dari Ubaidillah bin Musa berkata : diberitakan dari Khandzolah bin Abi Sufyan dari Ikrimah bin Kholid dari Ibnu Umar ra. Dia berkata Rasulullah SAW pernah bersabda : Islam ditegakkan atas lima perkara:

  1. Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
  2. Mendirikan shalat.
  3. Menunaikan zakat.
  4. Berhaji.
  5. Berpuasa pada bulan Ramadhan “ (HR. Bukhori, 8).[2]

[1] Abi al-Hasan nuruddin Muhammad bin’A bdil hadi as-Sindi. Kitab Shohih Bukhori Juz 1. Darul-Kutub Al-‘Ilmiyah. Bairut Lebanon : 2003. Hal. 14. Dan Abi ‘Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim ibnu Mughirah bin bardizbah Al-Bukhori. Shohihul Bukhori. Juz1-juz 2.Maktabah muthba’ah Thoha putra . Semarang : 1981. Hal .8.

[2] Abu Said Neno triyono.PDF Penjelasan Shohih Bukhori kitab Iman.Ikhwah Media. 2012. Hal.23.

  1. Mufrodat

خَمْسٍ عَلَي berarti lima perkara atau lima dasar (pokok),sebagaimana yang diriwiyatkan oleh Abdurrozaq, tetapi dalam riwayat Imam Muslim disebutkan lima rukun , apabila dikatakan bahwa empat dasar (pokok) diatas berdiri atas dasar syahadah maka tidak sah jika belum melakukan syahadat.[1]

  1. Takhrij Hadits
  2. Skema Sanad
Abdullah bin Umar bin Al-Khattab bin Naufail
Ikrimah bin khalid bin Al-‘Ash
Hanzdalah bin Abi Sufyan bin Abdurrahman bin Shafwan bin Umayah
Ubaidullah bin Musa bin Abi Al-Mukhtar Badzam

 

  1. Biografi Perawi
  • Nama : Abdullah bin Umar bin Al-Khattab bin Naufail
  • Kalangan         : Sahabat
  • Negeri              : Madinah
  • Wafat              : 73 H
  • Komentar Ulama        : menurut ibnu Hajar Al-Atsqolani dan      Adzahabi adalah sahabat, .
  • Nama : Ikrimah bin Khalid Al-‘Ash
  • Kalangan         : Tabi’in Kalangan pertengahan
  • Negeri             : Mekkah
  • Wafat              : 114 H
  • Komentar Ulama         : Ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Ma‟in, Imam Abu Zur‟ah, Imam Nasa‟I, Imam Ibnu Sa‟ad dan Imam Ibnu HIbban.
  • Nama : Hanzdalah bin Abi Sufyan bin Abdurrahman bin Shafwan bin Umayah
  • Kalangan         : Tabi’in
  • Negeri                         : Mekkah
  • Wafat              : 151 H
  • Komentar Ulama         : Ditsiqohkan oleh Imam Waki‟, Imam Ahmad, Imam Ibnu Ma‟in, Imam Abu Zur‟ah, Imam Abu Dawud, Imam Nasa‟I, Imam Ibnu Sa‟ad dan Imam Ibnu Hibban. Imam Ibnul Madini berkata, “Laa ba‟sa bih
  • Nama : Ubaidillah bin Musa bin Abi Al-Mukhtar Badzam
  • Kalangan         : Tab’ut Tabi’in Kalangan Biasa
  • Negeri                         : Kufah
  • Komentar Ulama         : Ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Ma‟in, Imam Al‟ijli, Imam Ibnu „Adiy dan Imam Ibnu Hibban[2]
  1. Tahamulul Hadits

Dalam penerima periwayatan suatu hadits diatas menggunakan cara Sama’ Min Lafdzi Syaikhikhi yakni penerimaan riwayat hadits dengan cara mendengar langsung dari gurunya, baik dengan cara didektekan dari hafalannya maupun dari tulisannya.

Adapun lafadz-lafadz yang sering digunakan oleh perawi dalam meriwayatkan hadits atas dasar “Sama’” adalah :

اَخْبَرَنَا / اَخْبَرَنِيْ

حَدَّثَنَا / حَدَّثَنِيْ

سَمِعْنَا / سَمِعْتُ

Dalam periwayatan hadits diatas menggunakan lafadz حدثنا & اخبرنا , maka dari itu tahamulul haditsnya dengan menggunakan cara sama’ min lafdzi syaikhikhi. Cara ini adalah paling tinggi derajatnya karena secara langsung berhadapan dengan gurunya.[3]

  1. Guru Perawi
  2. Kuniyah Abdullah bin umar bin Al-Khattab bin Nufail : Abu Abdur Rahman
  3. Kuniyah Ikrimah bin Khalid Al-‘Ash : –
  4. Kuniyah Hanzdalah bin Abi Sufyan bin Abdurrahman bin Shafwan bin Umayah                                                 : –
  5. Kuniyah Ubaidillah bin Musa bin Abi Al-Mukhtar Badzam : Abu Muhammad
  6. Analisis Hadits

Bahwasannya hadits ini setelah diteliti haditsnya yakni hadits shohih, karena telah memenuhi syarat hadits Shohih pada umumnya yaitu sanadnya bersambung, rawinya adil, dhabith,tidak syadz, dan tidak berillat. Seperti yang terkandung dalam nadzom al-Baiquniyah yang dikarang oleh Al-faqir ‘Abdullah Nawawi Al-baruni :

اَوَّلُهَاالصَّحِيْحُ وَهْوَ مَااتَّصَلْ # اِسْنَادُهُ وَلَمْ يُشَذْ لَمْ يُعَلْ

يَرْوِيْهِ عَدْلٌ ضَابِطٌ عَنْ مِثْلِهِ # مُعْتَمَدٌ فِى ضَبْطِهِ وَنَقْلِهِ

Bahwasannya nadzom diatas menjelaskan syarat hadits shohih yang tadi disebutkan.

Hadits diatas juga dapat kita sebut shahih karena tahamulul haditsnya menggunakan sama’ min lafdzi syaikhikhi yakni penerimaan riwayatnya dengan cara langsung mendengar dari gurunya dan berhadapan langsung dengan gurunya.

Dengan demikian hadits ini adalah hadits shohih karena tidak ada kecacatan dalam periwayatan haditsnya dan dilihat dari tahamulul haditsnya periwayatannya sangatlah terpercaya karena dengan menggunakan cara sama’min lafdzi syaikhikhi. Cara ini adalah cara yang paling tinggi kedudukannya, maka dari itu hadits ini adalah hadits yang benar-benar shohih yang diriwayatkan oleh imam Bukhori.

  1. Hadits atau Ayat Al-Quran Yang Berkaitan

Hadits yang berkaitan dengan hadits diatas yang diriwayatkan oleh Imam Muslim No 149 :

وَقَالَ يَا مُحَمَّدْ اَخْبِرْنِيْ عَنِ الْاِسْلَامِ فَقَالَ يَارَسُوْلَ الله.ص.م. : اَلْاِسْلَامُ اَنْ تَشْهَدُ اَنْ لَأاِلهَ اَلَّااللهً وَاَنَّ مُحَمَّدًارَسُوْلُ اللهِ وَيُقِىمُ الصَّلَأةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ وَتُحِجَّ الْبَيْتِ اِنِ اسْتَطَعْتَ اِلَيْهِ سَبِيْلَا.

Artinya :

Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam! Maka Rasulullah berkata : Islam adalah engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah,engkau mendirikan shalat, engkau menunaikan zakat, engkau berpuasa dibulan Ramadhan dan berhaji ke baitullah jika engkau mampu melaksanakannya.

Hadits yang berkaitan dengan hadits diatas yang diriwayatkan oleh ahmad ibnu hanbal hadits no 6019 :

حَدَّثَنَا ابن نُمَيْر حَدّثَنَا حَنْظَلَةُ سَمِعْتُ عِكْرِمَةُ بن خَالِدْ يُحَدّثُ طَاوُسًا قَالَ اِنَّ رَجٌلًا قَالَ لِعَبْدِ اللهِ بن عُمَرَ اَلاَ تَغْزُوْ قَالَ اِنِّيْ سَمِعْتُ لرَسُوْلَ اللهِ .ص.م . يَقُوْلُ اِنَّ الْاِسْلَامَ بُنِيَ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةُ اَنْ لَااِلهَ اِلَّا اللهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَاِقَامُ الصَّلَاةِ وَأِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامُ رَمَضَانَ وَحَجُّ الْبَيْت

Artinya :

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair menceritakan kepada kami Handzalah saya telah mendengar Ikrimah bin Khalid menceritakan hadits kepada Thawus dia berkata : seorang laki-laki berkata kepada Abdullah bin Umar, tidakkah kamu turut berperang ? dia menjawab : saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Islam dibangun atas lima hal yaitu Syahadat (bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah , dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan Shalat, menunaikan Zakat, puasa pada bulan Ramadhan, dan menunaikan Haji di Baitullah.[4]

Firman Allah yang berkaitan dengan hadits diatas dalam surat Albaqarah ayat : 43

وَاَقِيْمُوْا الصَّلوةَ وَءَا تُو الزّكَواوارْكَعُوْا مَعَ الرّاكِعِيْنَ

Artinya :

Dan dirikanlah Shalat, tunaikanlah zakat dan ruku‟lah beserta orang-orang yang ruku‟.(Albaqarah:43).

  1. Penjelasan Fathul Bari’
  2. Jihad tidak termasuk dalam hadits ini, karena hukum jihad adalah fardhu kifayah dan jihad tidak diwajibkan kecuali dalam waktu dan kondisi tertentu. Inilah jawaban Ibnu Umar tentang masalah jihad.Dalam akhir riwayatnya, Abdurrazaq menambahkan, “Jihad adalah perbuatan baik.” Lain halnya dengan Ibnu Baththal yang menganggap bahwa hadits ini muncul pada periode awal Islam sebelum diwajibkannya jihad. Memang jawaban ini masih dapat dikritik,bahkan merupakan jawaban yang salah, karena jihad diwajibkan sebelum terjadinya perang Badar, sedang perang Badar sendiri terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedua hijriyah, dimana pada tahun itu juga diwajibkan puasa, zakat dan haji menurut pendapat yang benar.
  3. (Kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah). Apabila dikatakan, “Kenapa dalam syahadat tidak disebutkan iman kepada para Nabi dan Malaikat dan lainnya sebagaimana yang ditanyakan oleh Jibril? Jawabnya, bahwa maksud dari syahadah adalah membenarkan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah, dengan begitu kalimat syahadah telah mencakup semua masalah yang berhubungan dengan akidah. Ismaili mengatakan, “Hal ini merupakan penamaan sesuatu dengan menyebutkan bagiannya, seperti seseorang mengatakan, “Aku membaca Aihamdu”, maksudnya aku membaca surat A! Fatihah. Maka jika dikatakan “Aku bersaksi atas kebenaran risalah Muhammad” berarti aku bersaksi atas kebenaran semua ajaran yang dibawa oleh Muhammad.”
  4. Maksud mendirikan shalat adalah menjalankan atau melaksanakan shalat, sedang maksud mengeluarkan zakat adalah mengeluarkan sebagian harta dengan cara khusus.
  5. Untuk menentukan keabsahan keislaman seseorang, Al Baqillani mensyaratkan terlebih dahulu pengakuan terhadap keesaan Allah (tauhid) sebelum mengakui risalah.
  6. Kesimpulan yang dapat diambil dari hadits di atas adalah bahwa pemahaman makna umum sunnah Rasul, dapat dikhususkan dengan arti tekstual Al Qur’an. Arti hadits secara umum menyatakan bahwa orang yang melaksanakan semua hal yang disebutkan, maka Islamnya sah. Sebaliknya orang yang tidak melaksanakan semua yang disebutkan, maka Islamnya tidak sah. Pemahaman ini dikhususkan dengan firman Allah, “Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan. ” (Qs.Ath-Thuur(52): 21).
  7. Dalam hadits di atas, Imam Bukhari lebih dahulu menyebutkan haji dari pada puasa. Namun pada hadits Imam Muslim dari riwayat Sa’ad bin Ubaidah dari Ibnu Umar, puasa disebutkan lebih dahulu daripada haji. Seseorang berkata, “Haji dan puasa Ramadhan,” lalu Ibnu Umar berkata, “Tidak, puasa Ramadhan dan haji.” Ini menunjukkan bahwa hadits riwayat Handhalah yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari merupakan hadits bil makna, yaitu hadits yang diriwayatkan berdasarkan maknanya, bukan berdasarkan lafazh yang diriwayatkan dari Rasulullah.

Hal ini bisa jadi disebabkan beliau tidak mendengar sanggahan Ibnu Umar pada hadits di atas, atau karena ia lupa. Kemungkinan ini lebih tepat dibandingkan pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Umar mendengar hadits tersebut dari Rasul dua kali dalam bentuk yang berbeda, namun beliau lupa salah satu dari kedua hadits tersebut ketika memberikan sanggahan kepada pernyataan seseorang dalam hadits di atas tadi. Sebenarnya adanya hadits yang diriwayatkan secara berbeda menunjukkan bahwa matan hadits tersebut disampaikan secara maknawi.

Pendapat ini juga dikuatkan adanya tafsir Bukhari yang lebih mendahulukan lafazh puasa dari pada zakat. Apa mungkin para sahabat mendapatkan hadits ini dalam tiga bentuk? Hal ini mustahil terjadi.[5

  1. Penjelasan Hadits

Dalam agama Islam terdapat beberapa aspek yang menjadi pondasi ibadah, yang dinamakan rukun Islam. Pondasi-pondasi tersebut merupakan perwujudan hamba Allah dalam mengimplementasikan penghambaannya kepaada Allah SWT.

Rukun Islam terdiri lima perkara yaitu :

  1. Syahadat

Adalah pernyataan kepercayaan dalam keesaan Allah dan nabi Muhammad sebagai Rasulnya dan merupakan asas dan dasar bagi rukun Islam lainnya, syahadat merupakan ruh, inti dari landasan seluruh ajaran Islam.

Syahadat sering disebut syahadatain karena terdiri dari dua kalimat, yaitu :

Kalimat pertama : Asyhadu an-laailaaha illallaah (saya bersaksi bahawa tiada illah selain Allah) yakni menunjukan pengakuan tauhid yang artinya seorang muslim hanya mempercayai Allah sebagai satu-satunya Allah. Allah adalah tuhan dalam artian sesuatu yang menjadi motivasi atau menjadi tujuan seseorang. Jadi dengan mengikrarkan kalimat pertama, seorang muslim memantapkan diri untuk menjadikan Allah hanya satu-satunya sebagai tujuan , motivasi dan jalan hidup.

Kalimat kedua : wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah ( dan saya bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah) , yakni menunjukan pengakuan bahwa nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Dengan mengikrarkan kalimat ini seorang muslim memantapkan diri untuk meyakini ajaran Allah seperti yang disampaikan melalui nabi Muhammad SAW. Misalnya meyakini hadits-hadits nabi Muhammad SAW.

  1. Shalat

Berarti doa, shalat dapat dinilai dari kenyataan bahwa merupakan kewajiban pertama.

  1. Puasa

Puasa menurut bahasa adalah menahan, menurut syariat islam puasa adalah suatu bentuk aktifitas kepada Allah SWT, dengan cara menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu, dan dari hal-hal lain yang membatalkan puasa, puasa memiliki fungsi dan manfaat untuk membuat kita menjadi tahan terhadap hawa nafsu, sabar, disiplin, jujur, peduli dengan fakir miskin, selalu bersyukur kepada Allah SWT, dan juga untuk membuat tubuh menjadi lebih sehat.

  1. Zakat

Adalah jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya ( fakir miskin dan sebagainya) .

  1. Haji

Adalah menuju kebaitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Haji merupakan rukun Islam yang ke lima setelah syahadat , shalat, puasa ,dan zakat.[6]

[1] Ibnu Hajar Al-asqolani. Penerjemah : Gazira Abdi Ummah.Syarah Fathu Barii. Pustaka Azam Jakarta :2002.hal.82.

[2] Aplikasi Lidwa Hadits

[3] Shobirin.Ilmu Hadits. Cv. Dharma Bhakti.2012. hal.17.

[4] Aplikasi Lidwa Hadits

[5] Ibnu Hajar Al-asqolani. Penerjemah : Gazira Abdi Ummah.Syarah Fathu Barii. Pustaka Azam Jakarta :2002.hal.83

[6] Penjelasan sendiri

Tagged with: