Hadis Tentang Etos Kerja

Latihan 1

Hadis Tentang Etos Kerja

Oleh: Linatun Nafisah, Dinny Nurbaeti, Asep Sobari

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا عِيْسَى بْنُ يُوْنُسَ عَنْ ثَوْرٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ الْمِقْدَامِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَََالَ: مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ, وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَم كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ. (رواه البخاري)[1]

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami ‘Isa bin Yunus dari Tsaur dari Khalid bin Ma’dan dari AlMiqdam radliallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang yang memakan satu makananpun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud AS memakan makanan dari hasil usahanya sendiri”. (HR. Bukhari)[2]

Mufrodat

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا:  Tidak ada seorang yang memakan satu makananpun

قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ: Yang lebih baik dari makanan

مِنْ عَمَلِ يَدِهِ: Hasil usaha tangannya sendiri.

Syarah Fathul Bari (Shahih Bukhari)

Dikatakaan oleh Sauri, dia adalah anak dari Yazid Asy-Syami Ibnu Zaid Al-Madani dia berkata dari Niqdam dia adalah Mu’adi kurobu Al-Kindi merupakan sahabat kecil yang meninggal pada tahun kisaran tahun 80 H di Hams. Tidak ada miliknya selain hadis ini dalam kitab Bukhori dan yang lain dalam kitab al-ath’imah. Dikatakan olehnya ”tidaklah seseorang memakan” lalu ditambahkan oleh isma’ili dari bani Adam dia berkata “makanan yang lebih baik dari pada ia memakan hasil kerja tangannya sendiri. Dalam riwayat Al-Isma’ili خَيْرٌ dengan rofa’ hal tersebut diperbolehkan dan dalam riwayatnya dari Kudaydiyah dan maksud dari kebaikan apapun yang dikehendaki dari hasil kerja tangannya dari kekayaan orang lain dan menurut ibnu majah dari jalur Umar Bin Sa’id dari Kholid bin Maqdan, darinya “Sebaik-baiknya pekerjaan seseorang itu adalah apa yang dihasilkan dari tangannya sendiri. Dan dari Ibnu Munjir, kata خَيْرٌdiganti menjadi أحَلَ. Dan dari fawaid Hisam ibnu Amar dari baqiyah menceritakan kepadaku Umar bin Sa’ad dengan penyandaran hadis yang serupa. Dapun keterangan selanjutnyaa hanya menjelasakan tentang hadis-hadis yang serupa[1]

Penjelasan Umum

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, etos adalah pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial. Jadi, pengertian Etos Kerja adalah semangat kerja yg menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. Etos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sesuatu yang diyakini, cara berbuat, sikap serta persepsi terhadap nilai bekerja. Sedangkan Etos Kerja Muslim dapat didefinisikan sebagai cara pandang yang diyakini seorang muslim bahwa bekerja tidak hanya bertujuan memuliakan diri, tetapi juga sebagai suatu manifestasi dari amal sholeh dan mempunyai nilai ibadah yang luhur.

Etos Kerja merupakan totalitas kepribadian diri serta cara mengekspresikan, memandang, meyakini, dan memberikan sesuatu yang bermakna, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal (high performance). Etos Kerja Muslim didefenisikan sebagai sikap kepribadian yang melahirkan keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakkan kemanusiaannya, melainkan juga sebagai suatu manifestasi dari amal sholeh. Sehingga bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim, melainkan sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai hamba Allah yang didera kerinduan untuk menjadikan dirinya sebagai sosok yang dapat dipercaya, menampilkan dirinya sebagai manusia yang amanah, menunjukkan sikap pengabdian sebagaimana firman Allah, “Dan tidak Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, (QS. adz-Dzaariyat : 56).

Bekerja adalah fitrah dan merupakan salah satu identitas manusia, sehingga bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman tauhid, bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim, tetapi sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai hamba Allah SWT. Apabila bekerja itu adalah fitrah manusia, maka jelaslah bahwa manusia yang enggan bekerja, malas dan tidak mau mendayagunakan seluruh potensi diri untuk menyatakan keimanan dalam bentuk amal kreatif, sesungguhnya dia itu melawan fitrah dirinya sendiri, dan menurunkan derajat identitas dirinya sebagai manusia. Setiap muslim selayaknya tidak asal bekerja, mendapat gaji, atau sekedar menjaga gengsi agar tidak dianggap sebagai pengangguran. Karena, kesadaran bekerja secara produktif serta dilandasi semangat tauhid dan tanggung jawab merupakan salah satu ciri yang khas dari karakter atau kepribadian seorang muslim. Tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk menjadi pengangguran, apalagi menjadi manusii yang kehilangan semangat inovatif. Karena sikap hidup yang tak memberikan makna, apalagi menjadi beban dan peminta-minta, pada hakekatnya merupakan tindakan yang tercela. Seorang muslim yang memiliki etos kerja adalah mereka yang selalu obsesif atau ingin berbuat sesuatu yang penuh manfaat yang merupakan bagian amanah dari Allah. Dan cara pandang untuk melaksanakan sesuatu harus didasarkan kepada tiga dimensi kesadaran, yaitu : dimensi ma’rifat (aku tahu), dimensi hakikat (aku berharap), dan dimensi syariat (aku berbuat).

Menurut K.H. Toto Tasmara dalam bukunya membudayakan etos kerja Islami, mendefinisikan bekerja adalah aktivitas yang dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu (jasmani dan rohani) dan di dalam mencapai tujuannya tersebut dan berupaya dengan penuh kesungguhan untuk mewjudkan prestasi yang optimal sebagai bukti pengabdian dirinya kepada Allah SWT.

Daftar Pustaka

[1]Fathulbari juz 4 no. 306

[1]Shahih Bukhari no. 1940 Hal. 594

[2]Aplikasi Ensiklopedia Hadis