KONTRIBUSI PEREMPUAN DALAM BELA NEGARA

KONTRIBUSI PEREMPUAN DALAM BELA NEGARA

oleh: Siti Sakinah, Shintia Muayyadah,

  1. Teks Hadis

[5679] حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ، عَنْ خَالِدِ بْنِ ذَكْوَانَ، عَنْ رُبَيِّعَ بِنْتِ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ، قَالَتْ: ” كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللَّه صلى الله عليه وسلم نَسْقِي الْقَوْمَ وَنَخْدُمُهُمْ وَنَرُدُّ الْقَتْلَى وَالْجَرْحَى إِلَى الْمَدِينَةِ “[1]

 

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Bisyir bin al-Mufadlal dari Khalid bin Dzakwan, dari Rubayyi’ bint Mu’awwidz ra, berkata: “Sungguh kami, para perempuan, ikut berperang bersama Nabi Saw, memberi minum dan melayani kebutuhan pasukan, kami juga membawa pulang mereka yang terluka dan yang terbunuh ke Madinah.” (Sahih Bukhori)

Sumber Hadis:

Hadis di atas telah ditelusuri melalui kitab Mu’jam al Mufahras li Alfadzil hadis karya A.J Wensinck. Dengan kata kunci [2]وَنَرُدُّ الْقَتْلَى وَالْجَرْحَى إِلَى الْمَدِينَةِ di halaman: 326 jilid 1, جهاد68 ,طبّ2. Dan telah ditelusuri juga melalui kitab Shohih Bukhari dengan nomor hadis 2882, 2883, 5679.

Status Hadis

Berdasarkan kritik sanad dan matan yang telah dilakukan, dapat di simpulkan bahwa hadis yang menjadi objek kajian berstatus sahih[3]dengan beberapa alasan sebagai berikut:

  1. Kriteria kesahihan sanad terpenuhi dalam hadis tersebut di mana sanadnya bersambung, periwayatnya adil dan dabit, sedangkan dari sisi matan juga terpenuhi karena tidak mengalami syaz dan ‘illah, karena matannya tidak bertentangan dengan hadis sahih, akal dan sejarah. Begitu jugatidak terjadi idraj, tashif, takhrif, inqilab atau yang dapat menjadi ‘illah dalam hadis.
  2. Hadis tersebut diriwayat berulang oleh Bukhari.
  3. Al-Bani menganggapnya sahih begitu juga al-Turmuzi menilainya hasan sahih.

2. Syarah Hadis

Menurut al-‘Asqalani, perempuan boleh ikut ke medan perang jika dia mampumenjaga diri dari sergapan musuh. Para perempuan pada masa Nabi saw. Terjun langsung ke medan perang untuk membantu dalam hal logistik perang, bukan dalam hal adu fisik. Selain itu ada beberapa riwayat mengisyaratkan bahwa kaum perempuan mengobati orang-orang yang terluka dan merawat orang-orang sakit, tapi sejatinya, riwayat-riwayat tersebut hendak menekankan betapa besar pengabdian kaum perempuan pada masa Rasulullah saw, mengingat mereka memiliki aktifitas-aktifitas lainnya dan aktifitas-aktifitas tersebut merupakan peran mereka juga pada masa kini, sebagaimana diriwayatkan bahwa kaum perempuan mengerjakan tugas-tugas lain dalam peperangan Nabi saw. seperti mengantarkan air dan makanan untuk pasukan muslim, mengamankan obat-obatan, memasak makanan, merawat peralatan-peralatan pasukan muslim, mengantarkan senjata-senjata, memperbaiki peralatan-peralatan, terlibat dalam perang pertahanan dan sebagainya.[4]

Penjelasan mengenai Hadis Ke-40 Kontribusi Perempuan Dalam Bela Negara

Secara logika, hadis tersebut sangat masuk akal, karena perempuan diberikan fisik yang tidak sama dengan laki-laki sehingga secara kodrat, perempuan tidak mungkin diperintahkan memanggul senjata, terlebih lagi, perempuan sangat rentan mengalami pelecehan-pelecehan jika tertangkap musuh, sehingga resiko-resiko tersebut menjadi pertimbangan tidak memberikan izin kepada perempuan untuk ikut serta dalam medan perang secara fisik, akan tetapi mereka boleh ikut dengan tugas mempersiapkan logistik pasukan.

Peperangan pada hakekatnya diwajibkan atas laki-laki, kecuali pada waktu-waktu darurat. tetapi tidak menutup kemungkinan perempuan ikut andil di dalamnya. Di antara perannya dalam hal ini adalah memberikan minuman, mengobati yang luka-luka akibat perang, menyiapkan bekal dan lain-lain. Bila para perempuan melakukan hal ini dengan ikhlas, pahalanya sama dengan orang yang ikut di medan perang. Peran perempuan Muslimah dalam jihad Rasulullah saw.

Di antara peran sebagian perempuan-perempuan muslim pada masa Nabi saw. yang merupakan cerminan dari perempuan-perempuan hebat:

  1. Ummu ‘Atiyyah: Dia ikut serta dalam tujuh peperangan, dan dari seluruh pengabdiannya adalah mengobati orang-orang yang terluka.
  2. Ummu Aiman: Dia mengobati orang-orang yang terluka dalam peperangan.
  3. Hammanah: Dia mengantarkan air kepada orang-orang yang terluka dan mengobati mereka. Ia telah kehilangan suami, saudara lelaki dan pamannya dari pihak ibu dalam peperangan.
  4. Rabi‘ah binti Mu‘az: Dia mengobati orang-orang yang terluka.
  5. Fatimah al-Zahra: Dia menjadi dokter Rasulullah saw, dalam perang Uhud.[5]

Sejarah telah menunjukkan kedudukan perempuan pada masa Nabi Muhammad Saw. tidak hanya dianggap sebagai istri, pendamping, dan pelengkap laki-laki saja, tapi juga dipandang sebagai manusia yang memiliki kedudukan yang setara dalam hak dan kewajiban dengan manusia lain di hadapan Allah Swt.

Adapun mengenai kepemimpinan perempuan dalam urusan umum, masih kontroversi. Mayoritas ulama melarang perempuan menjadi pemimpin dalam urusan umum. Tetapi di lain pihak, ada ulama lain yang membolehkan perempuan menjadi pemimpin di luar rumah tangganya, karena Al-Qur‟an memberi isyarat perempuan pun bisa menjadi pemimpin, bukan hanya laki-laki. Oleh karena itu, sebagian ulama membolehkan kepemimpinan perempuan secara umum jika mereka memiliki kemampuan untuk melaksanakan amanah tersebut. Di samping itu, mereka juga memiliki kriteria-kriteria atau syarat-syarat sebagai seorang pemimpin.

Adapun kriteria-kriteria atau syarat-syaratnya yaitu:

1) berpengetahuan luas,

2) kemampuan berpikir secara konsepsional,

3) kemampuan mengidentifikasi hal-hal yang strategis,

4) kemampuan berperan selaku integrator,

5) obyektif dalam menghadapi dan memperlakukan bawahan,

6) cara bertindak dan berpikir rasional,

7) pola dan gaya hidup yang dapat dijadikan teladan,

8) keterbukaan terhadap bawahan, tanpa melupakan adanya hirarki yang berlaku,

9) gaya kepemimpinan yang demokratis,

10) kemampuan berperan selaku penasihat yang bijaksana.[6]

Husein Muhammad menegaskan secara mutlak bahwa kegagalan dan keberhasilan kepemimpinan sebenarnya tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin. Kegagalan dan keberhasilan kepemimpinan sebenarnya lebih disebabkan oleh kemampuan dalam memimpin (skill kepemimpinan). Dalam suasana dimana perempuan sudah dapat berpikir maju sebagaimana laki-laki dan tidak lagi kekhawatiran akan kelemahan perempuan maka perempuan pun memiliki kesempatan dan peluang untuk menjadi pemimpin. Sebab, lebih tegas lagi, kepabilitas kepemimpinan yang menentukan berhasil-gagalnya sebuah tatanan kepemimpinan.

Di bagian akhir tulisannya tentang kepemimpian sosial perempuan, KH. Husein Muhammad menulis sub tentang “Dekonstruksi Fiqh Presiden Perempuan”. Setelah berargumentasi secara panjang lebar, dia berkesimpulan bahwa:

“Dengan kata lain, keputusan ijma’ (konsensus) dapat diubah apabila nilai kemaslahatan di mana hukum yang harus ditegakkan di atasnya telah berubah. Jadi, sekali lagi, tidak ada persoalan apakah seseorang presiden harus laki-laki atau perempuan. Perempuan dapat menjadi presiden jika kemaslahatan bangsa menghendakinya. Sebaliknya, laki-laki tidak layak menjadi presiden apabila ia dapat membawa kesengsaraan dan penderitaan rakyatnya.”[7]

Ijtihad Sendiri

Menurut pandangan saya pribadi mengenai kontribusi perempuan dalam bela negara sangat boleh, mengapa? Karena perempuan juga dapat mengapresiasikan kiprahnya dalam berpolitik bukan sekedar ruang domestik saja. Seperti yang telah disebutkan oleh Bpk. Faqihuddin A.K bahwa: sahabat Rubayyi’ binti Mua’wwidz, menjadi salah satu bukti historis keterlibatan perempuan dalam bela negara di awal Islam. Jika diartikan lebih luas, ini juga bisa dianggap sebagai aktivitas politik. Jadi, ada teladan perempuan yang aktif di arena politik di masa awal Islam.

Islam memandang perempuan sebagai dari masyarakat memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki untuk  mewujudkan kesadaran politik pada diri perempuan sendiri maupun masyarakat secara umum. Dengan demikian tidak menjadi masalah apakah posisi seseorang sebagai penguasa atau rakyat biasa. Keduanya bertanggung jawab dalam mengurus umat, yaitu penguasa sebagai pihak yang menerapkan aturan untuk memgurusi umat akan mengawasi pelaksanaan peraturannya.

[1]Bukhari, Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim. Shahih Bukhari,Jilid IV, (Lebanon: Dar Al-Kotob al-Ilmi’yah, 2009), h. 16

[2]Wensinck, J, A. Mujam Mufaros, Jilid I ( Leiden: E. J. Brill, 1965), h. 336

[3]Ensiklopedi Hadis: Menurut Ijma Ulama

[4]Abu al-Fadl Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani,Fath al-Bari, Juz. VII (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1379 H.), h. 91.

[5]Zaenab Abdullah.  Jihad Perempuan Dalam Perspektif Hadis Nabi (Kajian Tentang Jihad Dalam Ibadah Haji, Rumah Tangga Dan Medan Perang). Tesis: Makassar, 2012. h. 155

[6]TasminTangngareng. Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Hadis.Sulawesi Selatan, 2015. h. 166

[7]. SamsulZakaria. Kepemimpinan Perempuan Dalam Persepektif Hukum Islam. Khazanah: Yogjakarta, 2013. h. 84