Hadis Fi’liyah: Menggendong anak ketika shalat

Latihan 1

Oleh: Rochmatul Wasi’ah, Nur Aisyah, Rona Sentosa.

HADIS FI’LIYAH: Menggendong Anak Ketika Shalat.

 

  1. Hadis beserta Terjemahnya

  عن ابي قتادة رضي الله عنه قال : خرج علينا النبي صلى الله عليه وسلم وامامة بنت ابي العاص على عاتقته فصلى فاذا ركع وضعها واذا رفع رفعها. رواه البخاري

Terjemahan:

Dari Abu Qatadah ra, berkata: “Suatu saat Nabi Saw pernah keluar menggendong Umamah putri Abi Al-‘Ash di pundaknya. Beliau shalat (dalam keadaan menggendong sang cucu). Ketika sujud ia turunkan putri itu, dan ketika berdiri ia angkat lagi ke pundaknya. (Shahih Bukhari).

Takhrij Al-Hadis

  1. informasi yang saya dapat dari kitab Mu’jam Mufahras[1] dengan pencarian menggunakan lafadz dominan yakniعاتقهterdapat di beberapa  Riwayat :

 

  1. Bukhari, Juz 8, Kitab Adab, Bab 18, Halaman 2235

حدثنا ابو الواليد حدثنا الليث حدثنا سعيد المقبوري حدثنا عمرو بن سليم حدثنا  ابي قتادة رضي الله عنه قال : خرج علينا النبي صلى الله عليه وسلم وامامة بنت ابي العاص على عاتقته فصلى فاذا ركع وضعها واذا رفع رفعها. رواه البخاري[2]

 

  1. Muslim,Juz 1, Kitab Masajid, Bab 42, Halaman 219

 

حدثنا محمد ابن ابي عمر حدثنا سفيان عن عثمان ابن ابي سليمان وابن عجلان سمعا عامر ابن عبد الله ابن الزبير يحدث عن عمرو ابن سليم الزرقي.

عن ابي قتاده الانصاري قال : رايت النبي صلى الله عليه وسلم يوم الناس وامامة بنت ابي العاص وهي ابنة زينب بنت النبي صلى الله عليه وسلم  على عاتقه فاذا ركع وضعها واذا رفع من السجود اعادها.[3]

 

  1. Dawud, Kitab Shalat, Bab 165

حدثنا قتبية ابن سعيد حدثنا الليث عن سعيد بن ابي سعيد عن عمر بن سليم الرزقي انه سمع ابا قتادة يقول بينا نحن في المسجد جلوس حرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم يحمل امامة بنت العاص بن الربيع وامها زينب رسول الل صلى الله عليه وسلم وهي صبية يحملها (ج 1 ص 157) على عاتقه ” فصلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهي على عاتقه يضعها اذا ركع ويعيدها اذا قام حتى قضى سلاته يفعل ذلك بها.[4]

  1. Nasai’, kitab Masajid, Bab 19 dan Kitab Imamah, Bab 42 dan Kitab Sahwi, Bab 14
  2. Ad-Darimi, Kitab Shalat, Bab 94
  3. Ahmad Hanbal, Jilid 5, halaman 404 dan 411

 

Hadis diatas berupa hadis Hasan karena ketika saya telusuri salah satu perawi hadis dari riwayat Muslim ada yang mengalami kejanggalan yakni terdapat komentar ulama bahwa perawi tersebut “Tadlis”, sedangkan dari riwayat lain(selain Muslim) seluruh komentar ulama tentang para perawinya itu tsiqah. Hadis yang awalnya dhaif naik derajatnya menjadi Hasan karena ada penguat dari riwayat yang lain.  Dan dari segi matan berupa  hadis ini matannya berupa “matan bil ma’na” karena penyampain lafadznya berbeda akan tetapi maknanya sama.

  1. Penjelasan hadis :
  2. Menurut buku yang saya baca, yakni buku “60 Hadis Hak-hak Perempuan dalam Islam Teks dan Interpretasi”.

Dalam hadis tersebut Nabi Saw memberikan suatu praktik atau penjelasan bahwa seorang anak bukanlah suatu hal yang menggangu dan membuat kita risih karena keberadaannya,  hal tersebut terbukti ketika beliau(Nabi Saw) yang tetap menggendong cucunya walaupun dalam keadaan shalat dan terdapat  gerakan-gerakan tertentu yang dimana cucunya diletakkan dan tidak di gendong yakni ketika sujud dan ruku’.

Seorang anak didalam hadis ini dimaksudkan adalah “anak perempuan”, rasul memberikan penjelasan dalam praktik ini bahwa anak-anak tidak menjauhkan kita kepada kesucian ibadah dan untuk menjunjung tinggi kehormatan seorang perempuan yang ketika itu dilecehkan dan tidak dianggap sama sekali. Nabi Saw juga menunjukkan kepada khalayak bahwa kasih saying kepada anak juga sangat penting. Jika tidak menyayangi mereka, kita tidak pantas memperoleh kasih sayang dari siapapun. Termasuk dari  Allah dan Rasul-Nya. Walaupun dalam hadis ini yang disebutkan anak perempuan akan tetapi berlaku juga bagi anak laki-laki, telah disinggung tadi bahwa memberi kasih sayang pada anak sangat penting disini juga berlaku baik bagi anak perempuan maupun laki-laki dan tidak ada yang dibedakan diantara keduanya.[5]

Dan hukum menggendong anak ketika shalat juga diperbolehkan untuk wanita, karena tidak mungkin seorang ibu meninggalkan shalatnya hanya karena menjaga anaknya yang menginginkan digendong.

  1. Syarah Shahih Bukhari dari Kitab Fathul Bari :

الحديث الثالث :

قوله : وامامة بنت ابي العاص) اي ابن الربيع , وهي ابنت زينب بنت النبي صلى الله عليه وسلم

قوله (فاذا ركع وضع)كذا للاكثر بحذف المفعول وللكشميهني ((وضعها)) و قد تقدم شرح الحديث مستوفيى في اوائل الصلاة ابواب سترة المصلى , وقع هنا بلفظ ((ركع)) وهناك بلفظ ((سجد)) ولا منافاة بينهما بل يحمل على انه كان يفعل ذلك في نظرها مناسبة الحديث للترجمة, وهو رحمة الولد, وولد الوالد ولد. ومن شفقته صلى الله عليه وسلم ورحمته لامامة انه كان اذا ركع او سجد يخشى عليها ان تسقطفيضعها بالارض وكانها كانت اتعلقها به لا تصبر فتجزع من مفارقة . فيحتاج ان يحملها اذا قام. [6]واستنبط منه بعضهم عظم قدر رحمة الولد لانها تعارض حينئذ المحافظة على المبالغة في الخشوع والمحافظة على مراعاة خاطر الولد فقدم الثاني, ويحتمل ان يكون صلى الله عليه وسلم انمافعل ذلك لبيان الجواز.

redaksi فاذا ركع وضع menurut jumhur Ulama dengan membuang maful bih nya , tetapi menurut Imam Al Kasymihan menggunakan lafadz وضعها dengan disebutkan maful bih nya. Penjelasan hadisnya itu sudah terdahulu /dijelaskan yang bertepatan didalam permulaan shalat yaitu pada bab سترة المصلى . kata وقع disini menggunakan lafadz  ركع dan juga disana ada yg berpendapat bahwa ركع disini menggunakan kata سجد, tetapi tidak ada perdebatan diantara keduanya. Bahkan kanjeng Nabi melakukan hal itu ketika ruku’ dan sujud. Dengan hal ini jelaslah kesesuain hadis dengan terjemahnya, yaitu antara hadis “kasih sayang anak” dan hadis وولد الوالد  ولد .  hal ini dari ketakukan dan kasih saying Nabi terhadap Umamah apabila kanjeng  Nabi ruku’/sujud mengkhawatirkan Umamah akan terjatuh,  maka diletakkannya ke atas lantai. Sepertinya Umamah tidak saba ketika diletakkan dilantai. Maka kemudian kanjeng Nabi cemas dengan meletakan Umamah dilantai itu. Maka kanjeng Nabi menggendongnya lagi ketika berdiri, maka diambillah istinbat sebagian Ulama bahwa dari hal itu menjunjung tinggi kasih sayang kepada seorang anak. Tetapi hal itu bertentangan dengan 2 hal, yang pertama untuk menjaga terhadap kekhusyuan solat dan menjaga keselamatan anak itu. Maka yang kedua itu lebih didahulukan, dan hal inipun mencakup tentang kanjeng Nabi melakukan hal itu menjelaskan tentang kebolehan tentang menggendong anak ketika shalat.

[1] AJ,Wensick, Mu’jam Mufahras Li Afdzi Al Hadis, Jilid 5, hlm 127.

[2] Imam Bukhari (Abu Abdillan Muhammad bin Ismail bin ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al Bukhori) Shahih Bukhari, Kitab Adab, Juz 5. Hlm 2235

 

[3] Imam Muslim, Shahih Muslim, Juz 1, Kitab Masajid, Bab 42, Halaman 219

 

[4] Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Kitab Shalat.

[5]Faqihuddin Abdul Kodir, 60 Hak-hak perempuan dalam Islam (teks dan interpretasi), Cirebon: Graha Cendekia,2018. Hlm 63-65.

[6] Ibnu Hajar Asqalani, Fathul bari, Jilid 8 hlm 7195.

Tagged with: