Hak Wanita Untuk Memilih

Latihan 2

Hadis Tentang Hak Wanita Untuk Memilih

Oleh : Khayatunnisa, Ida Royanah, Ikhlasul Amal

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kasus perjodohan oleh orang tua terhadap anak perempuannya masih banyak dijumpai di dalam masyarakat muslim Indonesia. Tak jarang, praktek nikah paksa yang dilakukan oleh oknum orang tuayang bertujuan untuk membahagiakan anak perempuannya  justru berakhir dengan penyiksaan dhahir ataupun batin kepada anak perempuannya.

Jika sudah demikian biasanya ujung-ujungnya yang dirugikan adalah kaum perempeuannya. Seorang perempuan kerap kali tidak bisa berbuat apa-apa ketika di hadapkan persoalan seperti ini. Di satu sisi dengan memetuhi perintah orang tuannya menerima perjodohan tersebut dengan beranggapan bahwa hal tersebut adalah bentuk baktinya kepada orang tua, namun di sisi lain sang perempuan itu menjerit, karna haknya terampas dengan semena-mena oleh keegoisan orang tua. Beberapa korban nikah paksa tidak dapat bebuat banyak dan pasrah dalam posisi semacam ini, mereka selalu dihantui perasaan sebagai anak durhaka bila tidak mematuhi kemauan orang tuannya.

Dari sini dapat dilihat bahwa persoalan menikah adalah bukan sekedak kebutuhan seksual semata, tapi lebih dari itu. Pernikan merupakan suatu ikatan yang sangat kuat yang bertujuan untuk menciptakan kehidupan rumah tangga yang harmonis, sakinah, mawaddah dan wa rohmah. Yaitu kehidupan yang saling melengkapi antara suami dan istri.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pembahasan Hadis

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السِّرِيِّ, حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ عَنِ كَهْمَسِ بْنِ الحَسَنِ, عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ جَاءَتْ فَتَاةٌ إِلىَ النَّبِيِّ صلى الله غليه وسلم فَقَالَتْ إِنَّ أَبِي زَوَّجَنِي ابْنَ أَخِيْهِ لِيَرْفَعَ خَشِيْسَتَهُ, قَالَ فَجَعَلَ الأَمْرَ إِلَيْهَا, فَقَالَتْ قَدْ أَجَزْتُ مَا صَنَعَ أَبِيْ وَلَكِنْ أَرَدْتُ أَنْ تَعْلَمَ النِّسَاءُ أَنْ لَيْسَ إِلِى الآبَاءِ مِنَ الأَمْرِشَىْءٌ. رواه ابن ماجه[1]

Artinya: Dari Abu Buraidah, dari ayahnya. Sang ayah berkata: ada seorang perempuan muda datang kepada Nabi saw, dan bercerita “Ayah saya menikahkan saya dengan anak saudaranya untuk mengangkat derajatnya melalui saya”. Nabi saw memberikan keputusan akhir di tangan sang perempuan, kemudian sang perempuan itu berkata “Yaa Rosulullah, saya rela dengan apa yang dilakukan ayah saya, tetepi yana mengumumkan kepada para perempuan bahwa ayah-ayah tidak memiki hak atas hal ini” (Sunan Ibn Majah).

Hasil pencarian di dalam aplikasi gawami’ul kalim dengan kata kunci رفع   dan hanya di temukan dua riwat yaitu riwayat Ibn Majah (1864) dan riwayat Imam an-Nasai (5206).

Jika di lihat dari temanya hadits yang menceritakan tentang kebebasan memilih juga banyak sekali dari riwayat lain, salah satunya yaitu hadits berikut ini sama dari riwayat Imam Bukhori dan menceritakan kebebasan perempuan untuk memilih calon suaminya,

حَدَّثَنَا إِسَمَائِلَ بْنُ عَبْدِاللهِ قَالَ: حَدَّثَنِيْ مَلِكٌ عَنْ رَبِيْعَةُ بْنِ أَبِيْ  عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنِ القَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِي ص. م قَالَتْ كَانَ فِي بَرِيْرَةً ثَلَاثُ سُنَنٍ إِحْدَى السُّنَنِ أَنَّهَا أُعْتِقَتْ فَحُيِّرَتْ فِي زَوْجِهَا. . رواه البخارى[2]

Artinya: telah menceritakan kepada kami Ismail ibn Abdillah ia berkatatelah menceritakan kepadaku Malik dari Rabi’ah bin Abi Abd al-Rahman dari Qosim ibn Muhammad dari Aisyah isrti nabi ia berkata “sesungguhnya pada diri Barirah terdapat tiga sunnah, salah satunya ia telah di merdekakan dan diberi tawaran untuk memilih “terhadap suaminya.”

  1. Penjelasan Hadis

Dari Hadis di atas secara jelas menegaskan bahwa urusan memilih suami secara penuh merupakan hak seorang perempuan, bukan berdasarkan keputusan apalagi paksaan dari. Dalam teks hadis di atas juga telah menyinggung bahwa seorang ayah sama sekali tidak ada haknya untuk menikahkan seorang anak perempuannya dengan siapapun kecuali dengan pilihan dari sang putrinya senderi.

Hak memilih suami bagi perempuan dalam islam tidak di bedakan antara laki-laki dan perempuan. Persamaan dalam masalah ini dapat ditinjau dari persamaan dalam hak dan kewajiban dalam beragama. Kedudukan perempuan tidak lebih rendah dari laki-laki baik dari akal, kecakapan maupun kewajiban-kewajiban lain yang bersifat syar’i, keduannya memiliki hak dan kewajiban yang sama.[3]

Bahkan banyak ayat-ayat yang menegaskan persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan pahala amal sholih. Salah satunya dalam surat an- Nisaa ayat 124 atau dalam surat An-Nahl ayat 97.  Bila dalam amal sholih perempuan mendapatkan hak yang sama dalam pahala maka tentunya dalam memilih suamipun mereka mempuanyai hak yang sama seperti halnya kaum laki-laki. Memilih calon suami yang sholeh tentunya, tentu merupakan suatu cara bagi kaum perempuan untuk tetap taat kepada Allah.

Dalam suatu hadis lain juga yang secara gamblang menegaskan bagi seorang bapak tidak boleh memaksakan putrinya untuk di nikahkan sesuai dengan keinginannya.

Seorang tokoh besar pemikir islam berpendapat bahwa seorang bapak itu tidak boleh menggunakan harta anak perempuannya yang sudah baligh kecuali atas dasar izinnya.[4] Jika hartanya saja tidak boleh dan harus disertaka izin terlebih dahulu maka tentunya haknya lebih berharga dari harta bendanya, lalu bagaima mungkin seorang ayah merampas haknya untuk memilih caloon suami yang disualinya sedangkan putrinya tak menyukai.

Maka disini dapat disimpulkan bahwa memilih seorang suami adalah hak seorang perempuan dan tidak ada seorang walinyapun yang berhak campur tangan dalam pembahan ini dan jika memaksa anak perempuannya menikah dengan seorang lelaki yang di sukainya maka itu telah mera,pas haknya dan merupakan pelanggaran.

Muhammad ibn Shalih menjelaskan bahwa berbakti kepada kefua orang tua adalah berbuat baik kepada keduannya deangan harta, badan dan termasuk juga dengan ucapan dan perbuatan. Berbakti kapada kedua orang tua juga di lakukan dengan melayani keduannya secara baik dan sesuai dengan perintah agama. Namun ketika orang tua menyuruh anaknya untuk melakukan suatu hal yang di haramkan oleh agama maka seorang anak tidak boleh menurutinya bahkan haram mengikutinya. Dalam bagian ini menolak ajakan orang tua untuk melakukan hal yang di larang agama adalah bentuk berbakti kepadanya.`

Dari sini juga bisa disimpulkan bahwa bahwa ketika seorang anak tidak mematuhi perintah orang tuannya yang akan menikahkannya dengan seorang yang tidak disukai maka itu bukanlah bentuk durhaka kepada orang tua.

 

BAB

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Memilih seorang suami adalah hak seorang perempuan dan tidak ada seorang walinyapun yang berhak campur tangan dalam pembahan ini dan jika memaksa anak perempuannya menikah dengan seorang lelaki yang di sukainya maka itu telah mera,pas haknya dan merupakan pelanggaran dan bukan dikatakan durhaka jika seorang anak perempuan menolak untuk dinikahkan oleh orang tuannya jika calonnya tidak disukainnya.

 

[1]  Aplikasi mobile hadis gawami’ul kalim

[2]  Shohih Bukhori

[3] Kudhori Muhammad, Hak Perempuan Dalam Memilih Suami. Surabaya

[4] E-book terjemah Majmu’ al-Fatawa. Ibn Taymiyyah