Syarah Sunan Nasaa’i: Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Latihan 2

oleh: Rochmatul wasiah, Nur Aisyah, Rona sentosa

 

Deskripsi kitab

Judul: Syarah Sunan Nasaa’i: Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Penulis: As suyuthi

Pentahqiq: Abdul Fattah Abu Ghuddah

Penerbit: Darul Basyair al-Islamiyyah, Beirut-Lebanon

Cetakan: keempat, 1414 H/1994 M

Halaman: 9 jilid-halaman

Download kitab klik : cover, juz 1, juz 2, juz 3juz 4, juz 5, juz 6, juz 7, juz 8, juz 9.

 

  1. Riwayat Hidup Imam al-Nasa’i

Nama lengakap Imam al-Nasa’i adalah Ahmad bin Shuaib bin Ali Bin Sinan bin Bahr bin Dinar, dan diberi gelar dengan Abu Abd al-Rahman al-Nasa’i. Beliau dilahirkan pada tahun 215 H. Dikota Nasa’ yang termasuk wilayah Khurasan. Kepada tempat kelahiran beliau inilah dinisbatkan.

Dikota Nasa’ ini beliau tumbuh melewati masa kanak-kanaknya, dan disini juga beliau memulai aktifitas pendidikannya dengan mulai menghafal al-Quran dan menerima berbagai disiplin keilmuan dari guru-gurunya. Tatkala beliau sudah menginjak usia remaja, timbul keinginan dalam dirinya untuk mengadakan pengembaraan dalam rangka mencari hadis Nabi saw. Maka ketika usianya menginjak 15 tahun,mulailah beliau mengadakan perjalanan ke daerah Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan daerah-daerah lainnya yang masih berada di Jazirah Arabia untuk mendengarkan dan mempelajari hadis Nabi saw dari ulama-ulama negeri yang beliau kunjungi. Dengan usaha yang sungguh-sungguh ini, tidaklah heran kalau beliau sangat piawai dan unggul dalam disiplin ilmu hadis serta sangat menguasai dan ahli dalam ilmu tersebut.

Setelah menjadi ulama hadis beliau memilih Negara Mesir sebagai tempat bermukim untuk menyiarkan dan mengajarkan hadis kepada masyarakat. Dan setelah di Mesir setahun beliau pindah lagi ke Damaskus,  dikota inilah beliau menulis kitab Al-Khasais Ali bin Abi Thalib (keistimewaan Ali bin Abi Thalib) yang didalamnya menjelaskan keutamaan dan keistimewaan Ali menurut hadis. Beliau menulis kitab ini bertujuan, agar penduduk Damaskus tidak lagi membenci dan mencaci Ali. Ketika beliau membacakan hadis-hadis tersebut dihadapan orang banyak, beliau diminta untuk menjelaskan keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Akan tetapi dengan tegas beliau menjawab tidak mengetahui adanya hadis yang menyebut keutamaan Muawiyah. Oleh pihak Bani Umayyah beliau dianggap berpihak kepada golongan Ali dan menghina Muawiayah, karena itu beliau dipukuli oleh pendukung Bani Umayyah. Ada yang menyebutkan bahwa dalam kepayahan dan keadaan sekarat akibat penganiayaan tersebut , beliau dibawa ke negeri Ramlah-Palestina dan meninggal disana lalu dikuburkan di Damaskus. Namun versi lain dan inilah yang paling banyak dianut orang bahwa beliau dibawa ke Mekkah, kemudian dikuburkan diantara Safa dan Marwa di Mekkah. Beliau meninggal pada 13 Safar 303 H tepatnya ketika beliau pada usia 85 atau 88 tahun.[1]

  1. Karya-karya al-Nasa’i

imam al-Nasa’i mempunyai beberapa buku karangan. Dapat disebutkan diataranya adalah sebagai berikut:

  1. Al-Sunan al-Kubra.
  2. Al-Sunan al-Mujtaba;, kitab ini merupakan ringkasan dari isi kitab al-Sunan al-Kubra.
  3. Musna Malik.
  4. Manasik al-Hajj.
  5. Kitab al-Jum’ah.
  6. Igrab Syu’bah Ali Sufyan wa Sufyan Ali Syu’bah.
  7. Khasais Ali bin Abi Thalib Karram Allahu Wajhah.
  8. Amal al-Yaum wa al-Lailah.
  9. Kitab al-Tamyiz.
  10. Kitab al-Du’afa.[2]
  11. Biografi Jalaluddin al-Suyuthi

Jalaluddin al-Suyuthi yang mengarang kitab Zahr al-Ruba’ ‘ala al-Mujtabaadalah seorang ulama yang lahir pada malam Ahad di bulan Rajab pada tahun 849 H di daerah al-Asyuth atau yang biasa dikenal dengan al-Suyuth. Beliau wafat pada usia yang ke-61 pada malam Jum’at 19 Jumadil Ula tahun 911 H di Raudlah, yang tidak jauh dari sungai Nil. Kematiannya disebabkan karena sakit bengkak yang ada di tangannya. Di masa kecilnya, beliau dikenal memiliki kecerdasan diatas rata-rata anak sebayanya. Setelah ditinggal ayahnya pada umur 5 tahun, kemudian ia diasuh oleh Kamaluddin al-Hamid. Kemudian beliau mulai sibuk mencari ilmu pada usia 14 tahun. Sejarah pegembaraan ilmunya meliputi beberapa negri, yaitu: Syam, Hijjaz, Yaman, India, dan juga Maghrib. Beliau mempelajari beberapa ilmu seperti hadis, tafsir, fiqih, nahwu, balaghah, ma’ani, bayan dan badi’. Maka tidak heran jika beliau meiliki karya-karya banyak dari bidang yang ditekuninya. Salah satunya yaitu kitab ini kitab syarah terhadap kitab hadis milik Sunan al-Nasa’i.[3]

 

  1. Latar Belakang Penyusunan Kitab Zahr al-Ruba’ ‘ala al-Mujtaba

Latar belakang penyusunan kitab ini tidak mudah didapatkan dalam muqaddimah, karena al-Suyuthi sendiri tidak menjelaskan motif awal dikarangnya kitab syarah Sunan Nasa’i ini. Namun bisa dijawab dengan pernyataan bahwa pada mulanya al-Suyuthi sendiri sudah tertarik pada karyanya imam al-Nasa’i. Hal ini bisa kita lihat dalam muqaddimah ketika al-Suyuthi secara panjang lebar membahas pribadi Nasa’i dan juga kitabnya Sunan Nasa’i. Selain itu, hal lain yang berkenaan yaitu karena Nasa’i sendiri dikenal memiliki kriteria persyaratan yang lebih ketat dibandingkan Bukhori dan Muslim. Karena dalam menyebutkan hadis di dalam kitabnya, Nasa’i tidak menyebutkan satu hadispun dari orang yang ditolak periwayatannya oleh ulama-ulama hadis dan tidak dipercaya periwayatannya, misalnya Ibnu Luhay’ah. Kemudian karena kitab Sunan an-Nasa’i merupakan kitab ringkasan dan seleksi dari kitab Sunan al Kubra yang juga dikarang oleh Nasa’i, maka kitab Sunan Nasa’i jarang sekali ditemukan hadis dhoif. Hal-hal seperti inilah yang membuat al Suyuthi tertarik untuk mensyarahinya.[4]

  1. Metode Penyusunan dan Sistematika Kitab Zahr al-Ruba’ ‘ala al-Mujtaba

Kitab ini pertama kali muncul di Jaipur pada tahun 1847 H. Kemudian di New Delhi pada tahun 1850 H. Dan ketika tahun 1312 H kitab ini terbit di Kairo dalam bentuk dua jilid. Kitab ini memiliki metode penyusunan berdasarkan klasifikasi hukum Islam yang mengikuti model Nasa’i yaitu dengan membahas beberapa materi dan membaginya dalam 55 kitab (bab). Adapun sebagai berikut:[5]

No Nama Bab No Nama Bab
1 Bab taharah 29 Bab tentang kuda
2 Bab air 30 Bab wakaf
3 Bab haid dan istihadoh 31 Bab wasiat
4 Bab mandi dan tayamum 32 Bab mahar (mas kawin)
5 Bab shalat 33 Bab hibah (pemberian)
6 Bab waktu-waktu shalat 34 Bab budak
7 Bab adzan 35 Bab menghidupkan tanah mati
8 Bab masjid 36 Bab iman dan nadzar
9 Bab kiblat 37 Bab menggauli wanita (istri)
10 Bab imam 38 Bab tahrim al-dam
11 Bab pembukaan 39 Bab pembagian harta rampasan
12 Bab tathbiq 40 Bab tentang ba’iat
13 Bab tentang lupa 41 Bab aqiqah
14 Bab shalat jum’at 42 Bab penyembelihan
15 Bab qashar ketika berpergian 43 Bab pemburuan dan sembelihan
16 Bab shalat gerhana matahari 44 Bab hewan kurban
17 Bab shalat istisqa’ 45 Bab jual beli
18 Bab shalat khauf 46 Bab perdamaian
19 Bab shalat ‘idain 47 Bab memotong tangan pencuri
20 Bab qiyamullail 48 Bab iman dan syariatnya
21 Bab jenazah 49 Bab perhiasan
22 Bab puasa 50 Bab adab dalam peradilan
23 Bab zakat 51 Bab meminta perlindungan
24 Bab manasik haji 52 Bab minuman
25 Bab jihad
26 Bab nikah
27 Bab cerai
28 Bab tentang kuada

[6]

  1. Metode Pensyarahan al-Suyuthi pada Kitab Zahr al-Ruba’ ‘ala al-Mujtaba

Mengacu pada empat pengklasifikasian metode pensyarahan yaitu umum, sanad, matan, dan pemahaman isi yang mana klasifikasi umum meliputi penjelasan bunyi lafadz, kaidah bahasa, arti kamus, dan arti istilah. Klasifikasi sanad meliputi nama seluruh rawi, nama sebagian rawi, jarh wa ta’dil rawi, sebab-sebab penilaian para rawi, nilai status hadis, dan argumen status hadis. Klasifikasi matan meliputi penjelasan kata-perkata, per-kalimat, kata-kata sulit, keseluruhan matan dikemukakan, dan juga penjelasan lafadz lain sebagai syahid. Sedangkan klasifikasi pemahaman isi meliputi penjelasan hukum, pendapat dari beberapa madzhab, pendapat sendiri, dalil yang digunakan oleh madzhab, hal-hal yang terkait dengan faedah dan hikmah, serta pendapat syarih terdahulu.[7]

  1. Kelebihan dan kekurangan

Syarah dengan menggunakan metode ijmali ini memiliki kelebihan berupa bahasa yang disajikan terkesan mudah dipahami, karena menggunakan bahasa yang mudah, singkat, dan padat karena sehingga pemahamn terhadap kosa kata yang terdapat dalam hadis lebih mudah didapatkan, karena pengarang (al-Suyuthi) langsung  menjelaskan  kata atau maksud hadis walau al-Suyuthi sendiri tidak ikut serta mencantumkan pendapat pribadi ketika mencantumkan pendapat ulama dalam mensyarahi hadis-hadis tertentu. Hal ini tentunya sulit untuk melihat lebih lanjut lbagaimana posisi al-Suyuthi dalam perbedaan pendapat tersebut.[8]

  1. Contoh
  2. Hadis dari Sunan al-Nasa’i

بَاب التَّنَزُّهِ عَنِ الْبَوْلِ:(31)- [31] أَخْبَرَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، عَنْ وَكِيعٍ، عَنْ الْأَعْمَشِ، قال: سَمِعْتُ مُجَاهِدًا، يُحَدِّثُ عَنْ طَاوُسٍ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، قال: مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ K عَلَى قَبْرَيْنِ، فَقَالَ: ” إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا هَذَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنْ بَوْلِهِ، وَأَمَّا هَذَا فَإِنَّهُ كَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ، ثُمَّ دَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ فَغَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا، ثُمَّ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا “.خَالَفَهُ مَنْصُورٌ، رَوَاهُ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَلَمْ يَذْكُرْ طَاوُسًا

 

  1. Syarah al-Suyuthi

 

Nقَوْله ( فِي كَبِير )

أَيْ فِي أَمْر يَشُقّ عَلَيْهِمَا الِاحْتِرَاز عَنْهُ

( لَا يَسْتَنْزِه )

بِنُونٍ سَاكِنَة بَعْدهَا زَاي مُعْجَمَة ثُمَّ هَاء أَيْ لَا يَتَجَنَّب وَلَا يَتَحَرَّز عَنْهُ

( كَانَ يَمْشِي )

أَيْ بَيْن النَّاس

( بِالنَّمِيمَةِ )

هِيَ نَقْل كَلَام الْغَيْر بِقَصْدِ الْإِضْرَار وَالْبَاء لِلْمُصَاحَبَةِ أَوْ التَّعْدِيَة عَلَى أَنَّهُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ وَيَشِيعهَا بَيْن النَّاس

( ثُمَّ دَعَا بِعَسِيبٍ )

بِمُهْمَلَتَيْنِ بِوَزْنِ فَعِيل وَهِيَ جَرِيدَة لَمْ يَكُنْ فِيهَا خُوص

( بِاثْنَيْنِ )

قِيلَ الْبَاء زَائِدَة وَهِيَ حَال

( فَغَرَسَ )

قِيلَ أَيْ عِنْدَ رَأْسه ثَبَتَ ذَلِكَ بِإِسْنَادٍ صَحِيح

( لَعَلَّهُ )

أَيْ الْعَذَاب

( يُخَفَّف )

عَلَى بِنَاء الْمَفْعُول أَوْ لَعَلَّهُ أَيْ مَا فَعَلْت يُخَفِّف عَلَى بِنَاء الْفَاعِل وَالْمَفْعُول مَحْذُوف أَيْ الْعَذَاب

( مَا لَمْ يَيْبَسَا )

بِفَتْحِ مُثَنَّاة تَحْتِيَّة أَوْلَى وَسُكُون الثَّانِيَة وَفَتْح الْمُوَحَّدَة أَوْ كَسْرهَا أَيْ الْعُودَانِ قِيلَ الْمَعْنَى فِيهِ أَنَّهُ يُسَبِّح مَا دَامَ رَطْبًا فَيَحْصُل التَّخْفِيف بِبَرَكَةِ التَّسْبِيح وَعَلَى هَذَا فَيَطَّرِد فِي كُلّ مَا فِيهِ رُطُوبَة مِنْ الْأَشْجَار وَغَيْرهَا وَكَذَلِكَ مَا فِيهِ بَرَكَة كَالذِّكْرِ وَتِلَاوَة الْقُرْآن مِنْ بَاب أَوْلَى وَيُؤَيِّدهُ مَا جَاءَ عَنْ بَعْض الصَّحَابَة أَنَّهُ أَوْصَى بِذَلِكَ وَقِيلَ بَلْ هُوَ أَمْر مَخْصُوص بِهِ لَيْسَ لِمَنْ بَعْده أَنْ يَفْعَل مِثْل ذَلِكَ وَاَللَّه تَعَالَى أَعْلَمُ .

U( مَرَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ )

فِي رِوَايَة بِقَبْرَيْنِ وَمَرَّ بِمَعْنَى اِجْتَازَ يَتَعَدَّى تَارَة بِالْبَاءِ وَتَارَة بِـ عَلَى ، وَزَادَ اِبْن مَاجَهْ فِي رِوَايَته جَدِيدَيْنِ

( فَقَالَ : إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِير )

زَادَ فِي رِوَايَة الْبُخَارِيّ بَلَى ، وَإِنَّهُ لَكَبِير . قَالَ أَبُو عَبْد الْمَلِك الْبَوْنِيّ يَحْتَمِل أَنَّهُ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ظَنَّ أَنَّ ذَلِكَ غَيْر كَبِير فَأَوْحَى اللَّه فِي الْحَال أَنَّهُ كَبِير فَاسْتَدْرَكَ وَيَحْتَمِل أَنَّ الضَّمِير فِي ” وَإِنَّهُ ” يَعُود عَلَى الْعَذَاب لِمَا وَرَدَ فِي صَحِيح اِبْن حِبَّان مِنْ حَدِيث أَبِي هُرَيْرَة يُعَذَّبَانِ عَذَابًا شَدِيدًا فِي ذَنْب هَيِّن وَقِيلَ : الضَّمِير يَعُود عَلَى أَحَد الذَّنْبَيْنِ وَهُوَ النَّمِيمَة لِأَنَّهَا مِنْ الْكَبَائِر ، وَقَالَ الدَّاوُدِيُّ وَابْن الْعَرَبِيّ كَبِير الْمَنْفِيّ بِمَعْنَى أَكْبَر ، وَالْمُثْبَت وَاحِد الْكَبَائِر أَيْ لَيْسَ ذَلِكَ بِأَكْبَر الْكَبَائِر كَالْقَتْلِ مَثَلًا وَإِنْ كَانَ كَبِيرًا فِي الْجُمْلَة وَقِيلَ الْمَعْنَى لَيْسَ بِكَبِيرٍ فِي الصُّورَة ؛ لِأَنَّ تَعَاطِي ذَلِكَ يَدُلّ عَلَى الدَّنَاءَة وَالْحَقَارَة ، وَهُوَ كَبِير فِي الذَّنْب ، وَقِيلَ : لَيْسَ بِكَبِيرٍ فِي اِعْتِقَادهمَا أَوْ فِي اِعْتِقَاد الْمُخَاطَبِينَ ، وَهُوَ عِنْد اللَّه كَبِير كَقَوْلِهِ تَعَالَى : ” وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْد اللَّه عَظِيم ” وَقِيلَ : لَيْسَ بِكَبِيرٍ فِي مَشَقَّة الِاحْتِرَاز أَيْ كَانَ لَا يَشُقّ عَلَيْهِمَا الِاحْتِرَاز مِنْ ذَلِكَ ، وَهَذَا الْأَخِير جَزَمَ بِهِ الْبَغَوِيُّ وَغَيْره ، وَرَجَّحَهُ اِبْن دَقِيق الْعِيد وَجَمَاعَة ، وَقِيلَ لَيْسَ بِكَبِيرٍ بِمُجَرَّدِهِ ، وَإِنَّمَا صَارَ كَبِيرًا بِالْمُوَاظَبَةِ عَلَيْهِ ، وَيُرْشِد إِلَى ذَلِكَ السِّيَاق فَإِنَّهُ وَصَفَ كُلًّا مِنْهُمَا بِمَا يَدُلّ عَلَى تَجَدُّد ذَلِكَ عَنْهُ وَاسْتِمْرَاره عَلَيْهِ لِلْإِتْيَانِ بِفِعْلِ الْمُضَارَعَة بَعْد كَانَ . قَالَ الْحَافِظ اِبْن حَجَر : وَلَمْ يُعْرَف اِسْم الْمَقْبُورَيْنِ وَلَا أَحَدهمَا ، وَالظَّاهِر : أَنَّ ذَلِكَ كَانَ عَلَى عَمْد مِنْ الرُّوَاة لِقَصْدِ السَّتْر عَلَيْهِمَا ، وَهُوَ عَمَل مُسْتَحْسَن ، وَيَنْبَغِي أَنْ لَا يُبَالَغ فِي الْفَحْص عَنْ تَسْمِيَة مَنْ وَقَعَ فِي حَقّه مَا يُذَمّ بِهِ قَالَ وَقَدْ اُخْتُلِفَ فِيهِمَا فَقِيلَ : كَانَا كَافِرَيْنِ وَبِهِ جَزَمَ أَبُو مُوسَى الْمَدِينِيّ . قَالَ لِأَنَّهُمَا لَوْ كَانَا مُسْلِمَيْنِ لَمَا كَانَ لِشَفَاعَتِهِ إِلَى أَنْ يَيْبَس الْجَرِيدَتَانِ مَعْنًى وَلَكِنَّهُ لَمَّا رَآهُمَا يُعَذَّبَانِ لَمْ يَسْتَجِزْ لِلُطْفِهِ وَعَطْفه حِرْمَانَهُمَا مِنْ إِحْسَانِهِ فَتَشَفَّعَ لَهُمَا إِلَى الْمُدَّة الْمَذْكُورَة ، وَجَزَمَ اِبْن الْقَصَّار فِي شَرْح الْعُمْدَة بِأَنَّهُمَا كَانَا مُسْلِمَيْنِ قَالَ الْقُرْطُبِيّ : وَهُوَ الْأَظْهَر وَقَالَ الْحَافِظ اِبْن حَجَر وَهُوَ الظَّاهِر مِنْ مَجْمُوع طُرُق الْحَدِيث

( أَمَّا هَذَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِه مِنْ بَوْله )

بِنُونٍ سَاكِنَة بَعْدهَا زَاي ثُمَّ هَاء

( وَأَمَّا هَذَا فَإِنَّهُ كَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ )

قَالَ النَّوَوِيّ : هِيَ نَقْل كَلَام النَّاس بِقَصْدِ الْإِضْرَار

( ثُمَّ دَعَا بِعَسِيبٍ رَطْب )

بِمُهْمَلَتَيْنِ بِوَزْنِ فَعِيل ، وَهِيَ الْجَرِيدَة الَّتِي لَمْ يَنْبُت فِيهَا خُوص فَإِنْ نَبَتَ فَهِيَ السَّعَفَة

( فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ )

قَالَ النَّوَوِيّ الْبَاء زَائِدَة لِلتَّوْكِيدِ وَالنَّصْب عَلَى الْحَال

( فَغَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا )

قَالَ الزَّرْكَشِيُّ فِي تَخْرِيج أَحَادِيث الرَّافِعِيّ قَالَ الْحَافِظ سَعْد الدِّين الْحَارِثِيّ : مَوْضِع الْغَرْس كَانَ بِإِزَاءِ الرَّأْس ثَبَتَ ذَلِكَ بِإِسْنَادٍ صَحِيح اِنْتَهَى

( لَعَلَّهُ )

قَالَ اِبْن مَالِك : الْهَاء ضَمِير الشَّأْن

( يُخَفَّف عَنْهُمَا )

بِالضَّمِّ وَفَتْح الْفَاء الْأُولَى أَيْ الْعَذَاب عَنْ الْمَقْبُورَيْنِ

( مَا لَمْ يَيْبَسَا )

بِالْمُثَنَّاةِ التَّحْتِيَّة أَوَّله وَالْبَاء مَفْتُوحَة وَيَجُوز كَسْرهَا أَيْ الْعُودَانِ ، وَقَالَ الْمَازِرِيُّ يَحْتَمِل أَنْ يَكُون أُوحِيَ إِلَيْهِ أَنَّ الْعَذَاب يُخَفَّف عَنْهُمَا هَذِهِ الْمُدَّة ، وَقَالَ الْقُرْطُبِيّ قِيلَ : إِنَّهُ تَشَفَّعَ لَهُمَا هَذِهِ الْمُدَّة ، وَقَالَ الْخَطَّابِيُّ : هُوَ مَحْمُول عَلَى أَنَّهُ دَعَا لَهُمَا بِالتَّخْفِيفِ مُدَّة بَقَاء النَّدَاوَة لَا أَنَّ فِي الْجَرِيد مَعْنًى خَصَّهُ ، وَلَا أَنَّ فِي الرَّطْب مَعْنًى لَيْسَ فِي الْيَابِس قَالَ : وَقَدْ قِيلَ : إِنَّ الْمَعْنَى فِيهِ أَنَّهُ يُسَبِّح مَا دَامَ رَطْبًا فَيَحْصُل التَّخْفِيف بِبَرَكَةِ التَّسْبِيح ، وَعَلَى هَذَا فَيَطَّرِد فِي كُلّ مَا فِيهِ رُطُوبَة مِنْ الْأَشْجَار وَغَيْرهَا وَكَذَلِكَ مَا فِيهِ بَرَكَة وَكَالذِّكْرِ وَتِلَاوَة الْقُرْآن مِنْ بَاب أَوْلَى ، وَقَالَ اِبْن بَطَّال : إِنَّمَا خَصَّ الْجَرِيدَتَيْنِ مِنْ دُون سَائِر النَّبَات ؛ لِأَنَّهَا أَطْوَل الثِّمَار بَقَاء فَتَطُول مُدَّة التَّخْفِيف ، وَهِيَ شَجَر شَبَّهَهَا النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمُؤْمِنِ ، وَقِيلَ : إِنَّهَا خُلِقَتْ مِنْ فَضْلَة طِينَة آدَم عَلَيْهِ السَّلَام ، وَقَالَ الطِّيبِيُّ : الْحِكْمَة فِي كَوْنهمَا مَا دَامَتَا رَطْبَتَيْنِ يَمْنَعَانِ الْعَذَاب غَيْر مَعْلُومَة لَنَا كَعَدَدِ الزَّبَانِيَة ، وَقَدْ اِسْتَنْكَرَ الْخَطَّابِيُّ وَمَنْ تَبِعَهُ وَضْع النَّاس الْجَرِيد وَنَحْوه فِي الْقَبْر عَمَلًا بِهَذَا الْحَدِيث ، وَقَالَ الطُّرْطُوشِيّ : لِأَنَّ ذَلِكَ خَاصّ بِبَرَكَةِ يَده صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَقَالَ الْحَافِظ اِبْن حَجَر : لَيْسَ فِي السِّيَاق مَا يَقْطَع بِأَنَّهُ بَاشَرَ الْوَضْع بِيَدِهِ الْكَرِيمَة بَلْ يَحْتَمِل أَنْ يَكُون أَمَرَ بِهِ وَقَدْ تَأَسَّى بُرَيْدَة بْن الْحُصَيْبِ الصَّحَابِيّ بِذَلِكَ فَأَوْصَى أَنْ يُوضَع عَلَى قَبْره جَرِيدَتَانِ ، وَهُوَ أَوْلَى بِأَنْ يُوضَع مِنْ غَيْره اِنْتَهَى . قُلْت : وَأَثَر بُرَيْدَةَ مُخَرَّج فِي طَبَقَات اِبْن سَعْد ، وَقَدْ أَوْرَدْته فِي كِتَابِي شَرْح الصُّدُور مَعَ أَثَر آخَر عَنْ أَبِي بَرْزَة الْأَسْلَمِيِّ مُخَرَّج فِي تَارِيخ اِبْن عَسَاكِر ، وَقَدْ رَدَّ النَّوَوِيّ اِسْتِنْكَار الْخَطَّابِيِّ ، وَقَالَ : لَا وَجْه لَهُ

 

[1] Moh. Jazuli, Mengenal al-Nasai dan Sunan-nya (Madura: IGG) Hal. 3-4.

[2] Ibid., hal. 70.

[3]M. Alfatih Suryadilaga Metodologi Syarah Hadis Dari Klasik Hingga Kotnemporer. Depok Sleman Yogyakarta: Kalimedia, Cetakan 1: 2017. Hlm 253.

[4]Ibid. Hlm 254.

[6] Mengenal al-Nasai dan Sunan-nya (Madura: IGG) Hal. 9-10.

[7]M. Alfatih Suryadilaga Metodologi Syarah Hadis Dari Klasik Hingga Kotnemporer. Depok Sleman Yogyakarta: Kalimedia, Cetakan 1: 2017. Hlm 256.

[8] Ibid., hlm.263.