Kitab Tanwir Al-Hawalik Syarh ‘Ala Muwattha Malik

Latihan 4

Kitab Tanwir Al-Hawalik Syarh ‘Ala Muwattha Malik

Oleh: Dinny Nurbaeti, Linatun Nafisah, Asep Sobari

Deskripsi Kitab

Judul Kitab: Tanwir Al-Hawalik Syarh ‘Ala Muwattha Malik

Muhaqqiq: Muhammad ‘Ali Baidhun

Penerbit: Dar al-Kotob al-Ilmiyah Beirut-Libanon

Cetakan:

Tahun Terbit:

Download Kitab Klik: Cover, Juz 1, Juz 2, Juz

A. Biografi Pengarang Kitab

Nama lengkap Jalaluddin al-Suyuthi adalah Abu al-Fadhl Jalal al-Din ‘Abdurrahman bin al-Kamal Abi Bakr bin Muhammad bin Sabiq al-Khodlairi al-Asyuthi al-Syafi’i. Pengarang dari kitab ini adalah seorang ulama yang lahir setelah maghrib pada malam Ahad di bulan Rajab pada tahun 849 H di daerah al-Asyuth atau yang lebih dikenal dengan sebutan al-Suyuth. Dan wafat di saat usianya yang ke-61 pada malam Jum’at 19 Jumadil Ula tahun 911 H di Raudlah, tidak jauh dari sungai Nil. Wafatnya beliau ini disebabkan sakit bengkak yang ada di lengannya. Di masa kecilnya, beliau dikenal memiliki kecerdasan di atas rata-rata anak sebayanya. Ia dibesarkan dalam keadaan yatim piatu. Ayahnya wafat pada malam senin, 5 Shafar 855 H, pada saat Imam Suyuthi baru berusia 5 tahun, kemudian beliau diasuh oleh Kamaluddin al-Hamad. Pada usianya yang amat sangat muda, ia telah hafal Al-Qur’an, dan hafalan ini menjadi sempurna betul ketika ia menginjak usia 8 tahun. Setelah itu, ia melanjutkan dengan menghafal kitab-kitab semisal al-‘Umdah, Minhaj Fiqh, Al-Ushul, dan Al-fiyah ibn Malik. Kemudian mulai menyibukkan diri dengan menggeluti ilmu pada tahun 863 H, yakni ketika berumur 14 tahun.

Sejarah pengembaraan ilmunya ini, beliau melakukan perjalanan untuk mencari ilmu meliputi beberapa negeri, yakni di antaranya ke Syam, Hijaz, Yaman, Hindustan dan juga Maghrib. Adapun guru-guru beliau saat itu di antaranya adalah Sirajuddin al-Balqini (gurunya dalam bidang fiqih), Syihabuddin asy-Syarmasahi (faraidl), Abu Zakariyya bin Muhammad (yang mengajarkan beliau al-Bahjah dan tafsir Baidlawi), Syaifuddin al-Hanafi (mengajarkan kitab al-Kasyaf), Taqiyuddin as-Syamani al-Hanafi (gurunya dalam mengajarkan B. Arab dan Hadis), Syaikh Muhyiddin Muhammad bin Sulaiman al-Rumi al-Hanafi, Syaifuddin al-Hanafi, Jalaluddin al-Mahalliy, al-Zain al-‘Aqbi, al-Burhan Ibrahim bin ‘Umar al-Baqa’i asy-Syafi’i, Muhammad bin Ibrahim al-Diwani al-Rumi (pengobatan), dan lain-lain.

Dari keterangan di atas, jelas terlihat bahwa kredibilitasnya meliputi beberapa keilmuan seperti Hadis, Tafsir, Fiqih, Nahwu, Balaghah, Ma’ani Bayan, dan Badi’. Sementara itu beribu-ribu orang berguru kepada beliau, dan di antara mereka yang paling menonjol adalah : Syamsuddin asy-Syakhawi dan Ali al-‘Asymuni.

Karya-karya besarnya di antaranya: Tafsir Jalalain, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, al-Jami’ al-Shagir, al-Jami’ al-Kabir, Zahr ar-Rabbiy ‘ala Mujtaba Li al-Nasa’i, dan lain-lain.[1]

 

B. Sejarah Penulisan

Kitab Tanwir al-Hawalik merupakan ringkasan syarah kitab Muwattha yang berjudul Kasyf al-Mughti fi Syarh al-Muwattha. Kitab Tanwir al-Hawalik ini dikritik dan ditashih oleh Muhammad ‘Abdul ‘Aziz al-Khalidi. Dan kitab ini ditahqiq oleh Muhammad ‘Ali Baidlun-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah Beirut-Lebanon.

Kitab Tanwir al-Hawalik merupakan kitab syarah era klasik yang dimulai dari abad ke-6 – 12 yakni pada tahun 656 H, hal ini momentum dengan kelahiran kitab-kitab syarah sesuai kitab induk (hasil ulama muta’akhkhirin). Kitab ini merupakan kitab syarah yang wasith (syarah menengah) yakni syarah hadis Nabi SAW yang di dalam susunan kitab syarah hadis memiliki sekurang-kurangnya memiliki tujuh kriteria atau unsur-unsur syarah dari 23 unsur yang ada. Unsur-unsur tersebut di antaranya adalah penjelasan kaidah bahasa, penjelasan arti kamus, istilah, penjelasan nilai status, penjelasan kata perkata atau perkalimat, kata-kata gharib, penjelasan pendapat mazhab, dan lain-lain.

 

C. Latar Belakang Penulisan

Latar belakang penulisan kitab syarh ini, jika dibaca dalam Muqaddimah kitab syarh Tanwir al-Hawalik, dijelaskan bahwa beliau menulis kitab Tanwir al-Hawalik itu sebagai bentuk apresiasi terhadap kitab-kitab hadis, yakni dengan cara pemberian ta’liq (komentar) terhadap berbagai kitab hadis. Hal ini terbukti bahwa penulisan kitab Tanwir al-Hawalik ini memuat komentar terhadap kitab al-Muwattha karya Imam Malik sebagaimana telah beliau lakukan terhadap Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, akan tetapi syarah pada Tanwir al-Hawalik lebih luas dari ta’liq terhadap kedua kitab tersebut. [2]

 

 D. Sistematika Kitab

Adapun mengenai sistematikanya, kitab ini disusun per-bab mengikuti kitab induknya (al-Muwattha). Yakni, terdiri dari 61 kitab (bab) dan 1824 hadis. Dan perincian babnya adalah sebagai berikut:

  1. Bab Waktu-waktu Shalat
  2. Bab Bersuci
  3. Bab Shalat
  4. Bab Lupa dalam Shalat
  5. Bab Shalat Jum’at
  6. Bab Shalat pada Bulan Ramadhan
  7. Bab Shalat Malam
  8. Bab Shalat Jama’ah
  9. Bab Mengqasar Shalat dalam Perjalanan
  10. Bab Dua Hari Raya
  11. Bab Shalat dalam Keadaan Takut
  12. Bab Shalat Gerhana Matahari dan Bulan
  13. Bab Shalat Minta Hujan
  14. Bab Menghadap Qiblat
  15. Bab Al-Qur’an
  16. Bab Shalat Mayat
  17. Bab Zakat
  18. Bab Puasa
  19. Bab I’tikaf
  20. Bab Haji
  21. Bab Jihad
  22. Bab Nadzar dan Sumpah
  23. Bab Qurban
  24. Bab Sembelihan
  25. Bab Binatang Buruan
  26. Bab Aqiqah
  27. Bab Faraid
  28. Bab Nikah
  29. Bab Talaq
  30. Bab Persusuan
  31. Bab Jual Beli
  32. Bab Pinjam Meminjam
  33. Bab Penyiraman
  34. Bab Menyewa Tanah
  35. Bab Syuf’ah
  36. Bab Hukum
  37. Bab Wasiyat
  38. Bab Kemerdekaan dan Persaudaraan
  39. Bab Budak Mukatabah
  40. Bab Budak Mudarabah
  41. Bab Hudud
  42. Bab Minuman
  43. Bab Orang yang Berakal
  44. Bab Sumpah
  45. Bab Al-Jami’
  46. Bab Qadar
  47. Bab Akhlak yang Baik
  48. Bab Memakai Pakaian
  49. Bab Sifat Nabi SAW
  50. Bab Mata
  51. Bab Rambut
  52. Bab Penglihatan
  53. Bab Salam
  54. Bab Minta Izin
  55. Bab Bai’ah
  56. Bab Kalam
  57. Bab Jahannam
  58. Bab Sadaqah
  59. Bab Ilmu
  60. Bab Dakwah Orang yang Teraniaya
  61. Bab Nama-nama Nabi SAW

Adapun format peletakkan matannya adalah dengan pemberian syakal di atas tulisan-tulisannya dan syarh di bawahnya secara terperinci, dan dalam catatan kaki dicantumkan hadis dengan penomoran yang sesuai dengan matan yang tersebar dalam kitab.[3]

 

 E. Metode Penulisan Kitab

Metode yang digunakan Imam as-Suyuthi dalam menyusun kitab Syarah ini adalah dengan metode Ijmali Bil Ma’tsur (riwayat), akan tetapi terkadang menggunakan metode muqaran yakni dalam mensyarahi hadis beliau cenderung mencantumkan pendapat para ulama dalam memahami serta memperkuat syarah hadis. Selain itu juga, kitab syarah Tanwir al-Hawalik ini menggunakan pendekatan Historis.

 

 F. Contoh Pensyarahan

  • Hadis Tentang Rukyah Hilal Ramadhan

حدثني عن مالك عن عبد الله بن دينارا عن عبد الله بن عمر ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الشهر تسعة و عشرون فلا تصوم حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه فان غم عليكم فاقدروا له

Artinya: Telah bercerita kepadaku Malik dari Abdillah bin Dinar dari Abdillah bin Umarbahwasanya Rasulullah telah bersabda “hitungan bulan itu dua puluh sembilan hari. Maka janganlah anda berpuasa sebelum melihatnya (bulan tanggal pertama) dan janganlah ber- iedul fitri (menutup bulan ramadhan) sebelum melihatnya pula. Dan kalau hari dalam keadaan mendung, maka genapkanlah jumlahnya.

 

  • Syarah-nya dalam Tanwir al-Hawalik

(فإِن غم عَلَيْكُم) أَي حَال بَيْنكُم وَبَينه غيم فاقدروا لَهُ قَالَ النَّوَوِيّ اخْتلف فِي مَعْنَاهُ فَقَالَت طَائِفَة مَعْنَاهُ ضيقوا لَهُ وقدروه تَحت السَّحَاب وَبِهَذَا قَالَ أَحْمد بن حَنْبَل وَغَيره مِمَّن يجوز صَوْم لَيْلَة الْغَيْم عَن رَمَضَان وَقَالَ بن سُرَيج وَجَمَاعَة مَعْنَاهُ قدروه بِحِسَاب الْمنَازل وَذهب الْأَئِمَّة الثَّلَاثَة وَالْجُمْهُور إِلَى أَن مَعْنَاهُ قدرُوا لَهُ تَمام الْعدَد ثَلَاثِينَ يَوْمًا كَمَا فِي الرِّوَايَة الآخرى قَالَ الْمَازرِيّ حمل جُمْهُور الْفُقَهَاء قَوْله فاقدروا لَهُ عَليّ أَن المُرَاد إِكْمَال الْعدَد ثَلَاثِينَ كَمَا فسره فِي حَدِيث آخر قَالُوا وَلَا يجوز أَن يكون المُرَاد حِسَاب المنجمين لِأَن النَّاس لَو كلفوا بِهِ ضَاقَ عَلَيْهِم لِأَنَّهُ لَا يعرفهُ إِلَّا أَفْرَاد وَالشَّرْع إِنَّمَا يعرف النَّاس بِمَا يعرفهُ جماهيرهم انْتهى وَنقل بن الْعَرَبِيّ عَن بن سُرَيج أَن قَوْله فاقدروا لَهُ خطاب لمن خصّه الله بِهَذَا الْعلم وَإِن قَوْله فأكملوا الْعدة خطاب للعامة وَقَالَ بن الصّلاح معرفَة منَازِل الْقَمَر هُوَ معرفَة سير الْأَهِلّة وَأما معرفَة الْحساب فَأمر دَقِيق يخْتَص بمعرفته الْآحَاد قَالَ فمعرفة منَازِل الْقَمَر تدْرك بِأَمْر محسوس يُدْرِكهُ من يراقب النُّجُوم وَهَذَا هُوَ الَّذِي أَرَادَهُ بن سُرَيج وَقَالَ بِهِ فِي حق الْعَارِف بهَا فِي خَاصَّة نَفسه

(الشَّهْر تِسْعَة وَعِشْرُونَ) قَالَ النَّوَوِيّ مَعْنَاهُ أَن الشَّهْر قد يكون تِسْعَة وَعشْرين قَالَ بن حجر وَيُؤَيِّدهُ رِوَايَة البُخَارِيّ إِن الشَّهْر يكون تِسْعَة وَعشْرين يَوْمًا وَقَالَ بن الْعَرَبِيّ مَعْنَاهُ حصره من جِهَة أحد طَرفَيْهِ أَي إِنَّه يكون تسعا وَعشْرين وَهُوَ أَقَله وَيكون ثَلَاثِينَ وَهُوَ أَكْثَره فَلَا تَأْخُذُوا أَنفسكُم بِصَوْم الْأَكْثَر احْتِيَاطًا وَلَا تقتصروا على الْأَقَل تَخْفِيفًا وَلَكِن عبادتكم مرتبطة ابْتِدَاء وانتهاء باستهلاله (حَتَّى تروا الْهلَال) المُرَاد رُؤْيَة بعض الْمُسلمين لَا كل النَّاس

Arti syarah: kata (Dan kalau hari dalam keadaan mendung( Adapun perihal atara kalian dan diantaranya terdapat embun, (maka genapkanlah) An-Nawawi berkata bahwa terdapat perbedaan dalam maknanya. Golongan Fuqaha mengatakan bahwa ada penyempitan makna serta menggenapkannya berdasarkan hisab (perhitungan). Ahmad bin Hanbal dan lainnya mengatakan bahwa barang siapa yang ingin berpuasa pada malam diamana saat itu awan sedang mendung yakni pada bulan ramadhan maka dibolehkan. Menurut Ibnu Suraij dan kelompoknya memaknai kata “genapkanlah” yaitu dengan mengadakan hisab yang jatuhnya tepat tiga puluh hari. Sedangkan jumhur ulama memaknai kata “genapkanlah” adalah dengan penyempurnaan bilangan tiga puluh hari sebagaimana juga diriwayatkan oleh pihak lainnya. Almazari berpendapat bahwa pendapat jumhur ulama berkaitan tentang penyempurnaan jumlah tiga puluh hari itu.

kata (Sebulan adalah 29 hari) An-Nawani berpendapat bahwa maknanya adalah sebulan berarti dua puluh sembilan hari. Ibnu Hajar berpendapat dan didukung oleh riwayat Bukhari bahwa sebulan harus dua puluh sembilan hari, Ibnu ‘Arabi berpendapat bahwa maknanya adalah tidak hanya terbatas dua puluh sembilan hari saja tapi bisa juga tiga puluh hari. Sebagai tindakan untuk menjaga-jaga maka jadikanlah ibadah diantara kalian dimulai dan diakhiri dengan istihal. kata (Hingga terlihat hilal) yang melihat rukyah hanya sebagian muslim saja tidak seluruh umat manusia.

Dari contoh syarah hadis diatas yakni contoh hadis pertama tentang waktu shalat dapat diketahui bahwa dalam mensyarah hadis, Jalaluddin as-Suyuthi lebih mengutamakan riwayat-riwayat, ketimbang pendapatnya sendiri terbukti adanya pendapat para ulama seperti an-Nawawi, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Suraij, Mazariy, Ibnu Shalah. Sehingga tampaklah kitab ini menggunakan metode munqaran yakni dengan mengutip pendapat para ulama.

Menurut Ibnu Suraij dan Syafi’i, orang yang menggunkan ilmu falak (astronomi) untuk menentukan tanggal satu, yang menurut perhitungannya walaupun bulan tak terlihat boleh ditetapkan (itsbat) sebagai awal atau akhir ramadhan. Adapaun kata “genapkanlah” mengandung banyak arti menurut jumhur ulama, disempurnakan sampai 30 hari, menurut sebagian ulama diperhitungkan dengan dasar hisab.

Perintah Nabi untuk memulai puasa dan berhari raya atas dasar melihat tanggal satu qamariah dengan pengllihatan mata kepala (rukyah al hilal bil ain) adalah atas pertimbangan keadaan umat islam pada waktu itu. Mereka belum mampu melaksanakan kegiatan hisab awal bulan qamariah dan belum mungkin memanfaatkan alat-alat yang berteknologi canggih karena alat-alat yang demikian itu belum dikenal. Jikalau umat islam telah mampu, maka penyaksian tanggal satu qamariah boleh dengan menempuh kegiatan hisab yang sangat teliti dan menggunakan alat yang berteknologi canggih. Dengan demikian, perintah berpuasa berdasarkan penyaksian tanggal satu bulan qamariah dengan mata kepala (rukyah al hilal bi al ain) tersebut bersifat dan berlakusecara temporal tatkala umat islam telah memiliki pengetahuan dan teknologi tinggi, maka pengetahuan dan teknologi tersebut boleh dan bahkan harus digunakan untuk menyaksikan bulan tanggal satu ramadhan.

 

  • Hadis no. 14 Kitab Muwattha Malik bab Wuqutu al-Shalat

حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَن ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

Artinya: Telah bercerita kepadaku Yahya dari Malik dari Ibn Syihab dari Abu Salamah dari Abdurrahman dari Abu Hurairah; bahwasannya Rasulullah SAW telah bersabda: Barang siapa yang telah mendapatkan satu raka’at shalat maka sungguh ia telah mendapatkan “kesempurnaan” shalat.[4]

 

  • Syarah-nya dalam Tanwir al-Hawalik

من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة زاد النسائي كلها لا أنه بعض ما فاته قال بن عبد البر لا أعلم اختلافا في إسناد هذا الحديث ولا في لفظه عند رواة الموطأ عن مالك وكذلك رواه سائر أصحاب بن شهاب إلا أن بن عيينة رواه عن الزهري فقال فقد أدرك لم يقل الصلاة والمعنى المرادف في ذلك واحد وقد رواه عبد الوهاب بن أبي بكر عن بن شهاب فقال فقد أدرك الصلاة وفضلها وهذه لفظة لم يقلها أحد عن بن شهاب غير عبد الوهاب وليس بحجة على من خالفه فيها من أصحاب بن شهاب ولا أجاد فيها قلت وكذا قال الطهاوي قال لان معنى أدرك الصلاة أدرك فضلها ولو أدركها بادراك ركعة فيها لما وجب عليه عليه قضاء بقيتها ثم قال بن عبد البر وقد رواه عمار بن مطر عن مالك فقال فقد أدرك الصلاة ووقتها قال وهذا لم يقله عن مالك أحد غير عمار وليس ممن يحتج به فيما خولف فيه يقله عن مالك غيره

 

قال : وقد اختلف في معنى قوله : فقد أدرك الصلاة فقيل أدرك وقتها قال وقائلوا ذلك جعلوه في معنى الحديث السابق من أدرك ركعة من الصبح وليس كما ظنوا لانهما حديثان لكل واحد منهما معنى آخر وقيل أدرك فضل الجماعة على أن المراد من أدرك ركعة مع الامام وقيل من أدرك حكمها فيما يفوته من سهو الامام ولزوم الاتمام ونحو ذلك قال وظاهر الحديث يوجب الادراك التام الوقت والحكم والفضل قال ويدحل في ذلك إدراك الجمعة فإذا أدرك منها ركعة مع الامام أضاف إليها أخرى فان لم يدركها صلى أربعا ثم أخرج من طريق بن المبارك عن معمر و الاوزاعي ومالك عن الزهري عن أبي سلمة عن أبي هريرة مرفوعا من أدرك من الصلاة ركعة فقد أدركها قال الزهري فنرى الجمعة من الصلاة وأخرج من وجه آخر عن الاوزاعي قال سألت الزهري عن رجل فاتته خطبة الامام يوم الجمعة و أدرك الصلاة فقال حدثني أبو سلمة أن أبا هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من أدرك ركعة من صلاة فقد أدركها انتهى قال الحافظ مغلطاي وإذا حملناه على إدراك فضل الجماعة فهل يكون ذلك مضاعفا كما يكون لمن حضرها من أولها أو يكون غير مضاعف قولان وإلى التضعيف ذهب أبو هريرة وغيره من السلف وقال القاضي عياض يدل على أن المراد فضل الجماعة ما في رواية بن وهب عن يونس عن الزهري من زيادة قوله مع الامام وليست هذه الزيادة في حديث مالك وغيره عنه قال ويدل عليه أيضا إفراد مالك له في التبويب في الموطأ ويفسره رواية من روى فقد أدرك الفضل[5]

Artinya: Man Adraka rak’ata min al-Shalati faqad adraka al-Shalata. An-Nasa’i menambahkan bahwa yang dimaksud lafadz hadis ini adalah shalat secara keseluruhannya dan bukan sebagiannya.

Ibnu ‘Abdi al-Barri mengatakan, aku tidak mengetahui adanya perbedaan sanad dalam hadis ini dan pada periwayatan Malik dalam Muwattha tidak ada perbedaan lafadz hadis tersebut. Begitu juga yang diriwayatkan oleh semua sahabat dari Ibnu Syihab kecuali Ibnu Uyainah, yang diriwayatkan oleh az-Zuhri, فقد أدرك لم يقل الصلاة dengan lafadz dan makna yang sama dengan hadis tadi. Dan sebagaimana yang telah diriwayatkan ‘Abdul Wahab bin Abi Bakr dari Ibn Syihab ia berkata وفضلها فقد أدرك الصلاة Dan lafadz ini tidak ditemukan kecuali dari riwayatnya Ibn Syihab bukan dari ‘Abdul Wahhab. Dan tidak ditemukan alasan kenapa riwayat tersebut menggunakan lafal yang berbeda. Mengenai hal ini ath-Thahawi berpendapat bahwa makna mendapatkan (satu rakaat) shalat maka ia juga mendapatkan keutamaan seluruhnya meskipun ia hanya mendapatkan satu rakaat saja maka ia pun wajib menyempurnakan rakaat yang tertinggal. Kemudian Ibn ‘Abd al-Barr berkata, telah meriwayatkan ‘Amar bin Mathar dari Malik فقال فقد أدرك الصلاة ووقتها, lafadz ini tidak ditemukan kecuali dari riwayatnya Imam Malik dan bukan dari Amar. Dan hal ini tidak ada yang memberikan alasan mengapa terdapat perbedaan (lafadz) yang selain dari Malik.

Dan pada hadis ini terdapat perbedaan dalam memaknainya. Bahwa yang dimaksud dengan فقد أدرك الصلاة adalah yang telah mendapatkan waktu shalat dan bukan rakaatnya. Ini sebagaimana hadis من أدرك ركعة من الصبح. Maka dari itu mereka beranggapan bahwa masing-masing hadis tersebut memiliki makna yang berbeda dengan yang lainnya. Dikatakan pula bahwa makna hadis tersebut adalah mendapatkan keutamaan jama’ah, adapun yang dimaksud adalah mendapatkan satu rakaat bersama Imam, dan hal tersebut berdampak kepada makmum bahwa ia telah mendapatkan hukum untuk menyempurnakan rakaat atau membenarkan jika terdapat kekeliruan pada Imam dengan cara menyempurnakannya. Dan ia mendapatkan kesempurnaan waktu, hikmah dan keutamaan. Dan hal itu termasuk melaksanakan jamaah walaupun mendapatkan satu rakaat saja bersama Imam maka pahalanya sama seperti yang didapatkan Imam yakni seperti melaksanakannya sebanyak empat rakaat. Kemudian diriwayatkan dari jalur Ibn Mubarak dari Ma’mar, al-Auza’i, dan Malik dari az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah (hadis marfu’) من أدرك من الصلاة ركعة فقد أدركها Az-Zuhri berpendapat bahwa yang dimaksud disini adalah shalat jum’at. Dan sebagaiamana yang telah diriwayatkan dari al-Auza’i dengan jalur periwayatan yang lain, aku bertanya kepada az-Zuhri mengenai seseorang yang kehilangan khutbah Imam pada hari jum’at dan ia hanya mendapatkan shalat jum’atnya saja, maka bercerita kepadaku Abu Salamah bahwasannya Abu Hurairah berkata Rasulullah bersabda من أَدرك ركعة من الصلاَة فقد أدركها. Al-Hafidz Mughliti berkata apakah seseorang yang berjamaah dari awal akan mendapatkan pahala yang berlipat daripada yang hanya mendapatkan satu rakaat saja. Ada dua pendapat, yang pertama berpendapat dilipatgandakan, hal ini menurut Abu Hurairah dan para ulama salaf. Al-Qadhi ‘Iyadh berkata bahwa yang dimaksud adalah keutamaan jama’ah sebagaimana dalam riwayat Ibn Wahab dari Yunus dari az-Zuhri dari Ziyadah. Dan bukan Ziyadah dalam hadis Imam Malik dan yang selainnya”.[6]

 

  • Analisis Syarah

Dari syarah hadis di atas, dapat diketahui bahwa dalam mensyarahi hadis, Jalaluddin as-Suyuthi lebih mengutamakan riwayat-riwayat, ketimbang pendapatnya sendiri. Terbukti dengan banyaknya pendapat para ulama seperti Ibn Hajar, an-Nasa’i, az-Zuhri, pada syarah tersebut di atas. Hal ini dimungkinkan karena metode yang marak saat itu adalah pensyarahan dengan riwayat. Selain itu juga dalam syarah ini, beliau mengutip pendapat para ulama, yang digunakan sebagai pembanding dan penguat syarah pada kitab Tanwir al-Hawalik ini.[7]

 

G. Kelebihan dan Kekurangan Kitab

  • Kelebihan:
  1. Penjelasan yang diperkuat oleh riwayat-riwayat hadis yang lain
  2. Penjelasan yang diperkuat oleh pendapat ulama lain.

 

  • Kekurangan:
  1. Sebagian besar syarah hanya berupa riwayat-riwayat, baik itu riwayat yang bersambung kepada Nabi atau yang berupa pernyataan sahabat saja, sehingga diperlukan data yang lebih banyak lagi untuk lebih memahami kitab syarah ini.
  2. Tidak semua adanya penjelasan bahasa terhadap matan hadis/terhadap lafadz-lafadz gharib sehingga dapat menyulitkan kalangan awam dalam memahami hadis.

Tidak konsistennya dalam memakai metode syarah.[8]

 

[1] M. Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis Dari Klasik Hingga Kontemporer, Cetakan ke-1 (Yogyakarta: Kalimedia, 2017), hlm. 137

[2] M. Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis Dari Klasik Hingga Kontemporer, hlm. 138

[3] M. Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis Dari Klasik Hingga Kontemporer, Cetakan ke-1 (Yogyakarta: Kalimedia, 2017), hlm. 139

[4] M. Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis Dari Klasik Hingga Kontemporer, hlm. 141

[5] M. Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis Dari Klasik Hingga Kontemporer, Cetakan ke-1 (Yogyakarta: Kalimedia, 2017), hlm. 143

[6] M. Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis Dari Klasik Hingga Kontemporer, Cetakan ke-1 (Yogyakarta: Kalimedia, 2017), hlm. 144

[7] M. Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis Dari Klasik Hingga Kontemporer, hlm. 145

[8] M. Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis Dari Klasik Hingga Kontemporer, Cetakan ke-1 (Yogyakarta: Kalimedia, 2017), hlm. 147