LAKI-LAKI ITU DISEGANI BUKAN DI TAKUTI

Latiha 2

LAKI-LAKI ITU DISEGANI BUKAN DI TAKUTi

Oleh: Adah Fuadah, Siti Sadiah, Rizqi Qoyyidunnafs Biddin

 

  1. Teks Hadis

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ، عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ الْخَطَّابِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: اسْتَأْذَنَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعِنْدَهُ نِسْوَةٌ مِنْ قُرَيْشٍ يَسْأَلْنَهُ وَيَسْتَكْثِرْنَهُ عَالِيَةً أَصْوَاتُهُنَّ عَلَى صَوْتِهِ، فَلَمَّا اسْتَأْذَنَ عُمَرُ تَبَادَرْنَ الْحِجَابَ، فَأَذِنَ لَهُ النَّبِيُّ فَدَخَلَ، وَالنَّبِيُّ يَضْحَكُ، فَقَالَ: أَضْحَكَ اللَّهُ سِنَّكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، فَقَالَ: “عَجِبْتُ مِنْ هَؤُلَاءِ اللَّاتِي كُنَّ عِنْدِي لَمَّا سَمِعْنَ صَوْتَكَ تَبَادَرْنَ الْحِجَابَ ” فَقَالَ: أَنْتَ أَحَقُّ أَنْ يَهَبْنَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِنَّ، فَقَالَ: يَا عَدُوَّاتِ أَنْفُسِهِنَّ أَتَهَبْنَنِي وَلَمْ تَهَبْنَ رَسُولَ اللَّهِ فَقُلْنَ إِنَّكَ أَفَظُّ وَأَغْلَظُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: ” إِيهٍ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ “[1]

Terjemahan:

Telah menceritakan kepada kami Isma’il, telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari Shalih bin Kaisan dari Ibnu Syihab dari Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bin Al Khatthab dari Muhammad bin Sa’d dari ayahnya dia berkata; “Umar bin Khatthab radiallahu ‘anhu pernah meminta izin kepada Rasulullah saw, (saat itu) di dekat beliau ada beberapa wanita Quraisy yang sedang berbicara panjang lebar dan bertanya kepada beliau dengan suara yang lentang. Ketika Umar meminta izin kepada beliau, mereka segera berhijab (bersembunyi di balik tabir), lalu Nabi saw mempersilahkan Umar untuk masuk. Ketika Umar masuk Rasulullah saw tertawa aehingga Umar berkata; “Demi ayah dan ibuku, apa yang membuat anda tertawa wahai Rasulullah saw?” beliau bersabda; “Aku heran dengan mereka yang ada di sisiku, ketika mendengar suaramu mereka segera berhijab. “Umar berkata; “Anda adalah orang yang lebih patut untuk disegani wahai Rasulullah!. Kemudian Umar menghadap kea rah wanita tersebut dan berkata; “Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi hawa nafsunya sendiri, apakah kalian segan denganku sementara kalian tidak segan kepada Rasululllah saw?” Kami pun menjawab; “Karena kamu adalah orang yang leboh keras dan lebih kaku dari Rasulullah saw.” Rasulullah saw bersabda: “Biarlah wahai Ibnu Khatthab, demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, selamanya syetan tidak akan bertemu denganmu disatu jalan yang kamu lewati melainkan syetan akan melewati jalan selain jalanmu.”

 

  1. Hadis Serumpun

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ صَالِحٍ، عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدٍ، أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَخْبَرَهُ، أَنَّ أَبَاهُ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ، قَالَ: اسْتَأْذَنَ عُمَرُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعِنْدَهُ نِسَاءٌ مِنْ قُرَيْشٍ يُكَلِّمْنَهُ وَيَسْتَكْثِرْنَهُ عَالِيَةً أَصْوَاتُهُنَّ، فَلَمَّا اسْتَأْذَنَ عُمَرُ قُمْنَ يَبْتَدِرْنَ الْحِجَابَ، فَأَذِنَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ وَرَسُولُ اللَّهِ يَضْحَكُ، فَقَالَ: عُمَرُ أَضْحَكَ اللَّهُ سِنَّكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ عَجِبْتُ مِنْ هَؤُلَاءِ اللَّاتِي كُنَّ عِنْدِي فَلَمَّا سَمِعْنَ صَوْتَكَ ابْتَدَرْنَ الْحِجَابَ، قَالَ عُمَرُ: فَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كُنْتَ أَحَقَّ أَنْ يَهَبْنَ، ثُمَّ قَالَ: أَيْ عَدُوَّاتِ أَنْفُسِهِنَّ أَتَهَبْنَنِي، وَلَا تَهَبْنَ رَسُولَ اللَّهِ قُلْنَ: نَعَمْ أَنْتَ أَفَظُّ وَأَغْلَظُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: ” وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ “[2]

 

Telah bercerita kepada kami Ali bin Abdullah telah bercerita kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah bercerita kapada kami bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab berkata telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul Hamid bin ‘Abdur Rahman bin Zaid bahwa Muhammad bin Sa’d bin Abi Waqash mengabarkan kepadanya bahwa Sa’d bin Abi Waqash berkata; Umar meminta izin menemui Rasulullah saw saat ada wanita-wanita Quraisy sedang berbincang bersama beliau dan berlama-lama berbicara sehingga suara mereka terdengar dengan keras. Ketika Umar terdengar meminta izin, para wanita itu berdiri lalu pergi berlindung dibalik tabir. Rasulullah saw mengizinkan Umar masuk lalu Rasulullah saw tertawa. Umar berkata “Semoga Allah selalu membuat gigi baginda tertawa wahai Rasulullah”. Beliau berkata: “Aku heran dengan para wanita yang tadi bersamaku. Ketika mendengar suaramu mereka langsung saja menghindar dan berlindung dari balik tabir”. Umar berkata; “Kamulah wahai Rasulullah, seharusnya yang lebih patut untuk disegani”. Selanjutnya Umar berkata; “Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi diri kalian sendiri, mengapa kalian segan (takut) kepadaku dan tidak segan kepada Rasulullah saw?”. Para wanita itu menjawab; “Ya, karena kamu lebih galak dan keras hati dibanding Rasulullah saw”. Kemudian Rasullah saw bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, tidak ada satu setanpun yang berjumpa denganmu pada satu lorong melainkan dia akan mencari lorong lain yang tidak kamu lalui”.

 

Menurut hasil penelusuran yang saya lakuakan hadis ini jika dilihat dalam kitab Mu’jam Mufahros terdapa dalam juz 4 yang pencariannya menggunakan kata عجب, dimana hadis ini terdapat dalam kitab Sahih Bukhari dalam bab   فضائل أصحاب النبى, hadis tersebut bisa di temukan dalam kitab Sahih Bukhari no. 3294, 3683 dan 7085, dan setelah melihat komentar-komentar para ulama mengenai hadis tersebut, saya menyimpilkan bahwa hadis ini berupa hadis yang sahih apabila di lihat dari segi sanadnya. Sebab, keseluruhan dari para perawi ini termasuk kepada orang yang tsiqah dan jika dilihat dari segi matannya hadis ini termasuk kedalam hadis yang bilma’na.

 

Dalam hadis diatas Nabi Saw membiarkan dirinya dituntut oleh para perempuan yang bersuara lantang, dimana para perempuan tersebut dengan lantang menyampaikan pendapat, ide, pertanyaan dan permintaan-permintaannya kepada Nabi Saw. Peristiwa tersebut tidak membuat Nabi Saw menghardik, melecehkan dan tidak pula merendahkan. Akan tetapi, Nabi Saw malah tersenyum dan menghadapinya dengan sikap yang lembut dan tenang ketika melihat kenyamanan dari para perempuan ketika peristiwa berlangsung.

Berbeda halnya dengan yang dilakukan para laki-laki pada umumnya yang menundukan para istrinya dengan menjanjikan syurga dan ancaman neraka. Mungkin memang para laki-laki sudah terbiasa dengan keadaan tersebut, sehingga di perlukan baginya untuk bisa menahan diri dan memberikan kesempatan kepada perempuan.

Sebab menikah atau berkeluarga bukan untuk menguasai salah satu pihaknya akan tetapi untuk menjalin kerjasama dalam mengarungi kehidupan dan sala satunya yaitu denga menyampaikan pendapat dan bisa mendengarkan antara salah satunya.[3]

Begitu juga Nabi Saw menyampaikan klarifikasinya berdasarkan firman Allah yang menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan yang mempunyai hak sama diantara keduanya dalam aspek kehidupan. Adapun bunyi dari firman Allah tersebut artinya:

“Sungguh laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama (Allah), Allah telah menyediakan untuk mereka untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

 

  1. Syarah Hadis

 

كتاب فتح الباري الشرح الأول(5468) الحديث الخامس قوله: (عَن عَبد الحَمِيد بن عَبد الرَّحمَن بن زَيد) ؛ أَي ابن الخَطّاب، وفِي الإِسناد أَربَعَة مِنَ التّابِعِينَ عَلَى نَسَق: قَرِينانِ وهُما صالِح وهُو ابن كَيسانَ وابن شِهاب، وقَرِيبانِ وهُما عَبد الحَمِيد ومُحَمَّد بن سَعد وكُلّهم مَدَنِيُّونَ.قوله: (استَأذَنَ عُمَر عَلَى رَسُول الله وعِنده نِسوة مِن قُرَيش ) هُنَّ مِن أَزواجه، ويَحتَمِل أَن يَكُون مَعَهُنَّ مِن غَيرهنَّ لَكِن قَرِينَة قوله: (يَستَكثِرنَهُ ) يُؤَيِّد الأَوَّل، والمُراد أَنَّهُنَّ يَطلُبنَ مِنهُ مِمّا يُعطِيهِنَّ.وزَعَمَ الدّاوُدِيُّ أَنَّ المُراد أَنَّهُنَّ يُكثِرنَ الكَلام عِنده، وهُو مَردُود بِما وقَعَ التَّصرِيح بِهِ فِي حَدِيث جابِر عِند مُسلِم أَنَّهُنَّ يَطلُبنَ النَّفَقَة.قوله: (عالِيَة)، بِالرَّفعِ عَلَى الصِّفَة وبِالنَّصبِ عَلَى الحال.وقوله: (أَصواتهنَّ عَلَى صَوته) قالَ ابن التِّين: يَحتَمِل أَن يَكُون ذَلِكَ قَبل نُزُول النَّهي عَن رَفع الصَّوت عَلَى صَوته، أَو كانَ ذَلِكَ طَبعهنَّ انتَهَى.وقالَ غَيره: يَحتَمِل أَن يَكُون الرَّفع حَصَلَ مِن مَجمُوعهنَّ لا أَنَّ كُلّ واحِدَة مِنهُنَّ كانَ صَوتها أَرفَع مِن صَوته، وفِيهِ نَظَر.قِيلَ ويَحتَمِل أَن يَكُون فِيهِنَّ جَهِيرَة، أَو النَّهي خاصّ بِالرِّجالِ وقِيلَ فِي حَقّهنَّ لِلتَّنزِيهِ، أَو كُنَّ فِي حال المُخاصَمَة فَلَم يَتَعَمَّدنَ، أَو وثِقنَ بِعَفوِهِ.ويَحتَمِل فِي الخَلوة ما لا يَحتَمِل فِي غَيرها.قوله: (أَضحَكَ الله سِنَّك ) لَم يُرِد بِهِ الدُّعاء بِكَثرَةِ الضَّحِك بَل لازِمه وهُو السُّرُور، أَو نَفي لازِمه وهُو الحُزن.قوله: (أَتَهَبنَنِي ) مِنَ الهَيبَة أَي تُوقِّرنَنِي.قوله: (أَنتَ أَفَظُّ وأَغلَظُ)، بِالمُعجَمَتَينِ بِصِيغَةِ أَفعَل التَّفضِيل مِنَ الفَظاظَة والغِلظَة وهُو يَقتَضِي الشَّرِكَة فِي أَصل الفِعل، ويُعارِضهُ قَوله تَعالَى: {ولَو كُنت فَظًّا غَلِيظ القَلب لانفَضُّوا مِن حَولك ) فَإِنَّهُ يَقتَضِي أَنَّهُ لَم يَكُن فَظًّا ولا غَلِيظًا، والجَواب أَنَّ الَّذِي فِي الآيَة يَقتَضِي نَفي وُجُود ذَلِكَ لَهُ صِفَة لازِمَة فَلا يَستَلزِم ما فِي الحَدِيث ذَلِكَ، بَل مُجَرَّد وُجُود الصِّفَة لَهُ فِي بَعض الأَحوال وهُو عِند إِنكار المُنكَر مَثَلاً، واللَّهُ أَعلَمُ.وجَوَّزَ بَعضهم أَنَّ الأَفَظّ هُنا بِمَعنَى الفَظّ، وفِيهِ نَظَر لِلتَّصرِيحِ بِالتَّرجِيحِ المُقتَضِي لِحَملِ أَفعَل عَلَى بابه، وكانَ النَّبِيّ K لا يُواجِه أَحَدًا بِما يَكرَه إِلاَّ فِي حَقّ مِن حُقُوق الله، وكانَ عُمَر يُبالِغ فِي الزَّجر عَن المَكرُوهات مُطلَقًا وطَلَب المَندُوبات، فَلِهَذا قالَ النِّسوة لَهُ ذَلِكَ.قوله: (إِيهًا ابن الخَطّاب) قالَ أَهل اللُّغَة ) إِيهًا ) بِالفَتحِ والتَّنوِين مَعناها لا تَبتَدِئنا بِحَدِيثٍ، وبِغَيرِ تَنوِينَ كُفَّ مِن حَدِيث عَهِدناهُ، و )إِيهٍ ) بِالكَسرِ والتَّنوِين مَعناها حَدِّثنا ما شِئت وبِغَيرِ التَّنوِين زِدنا مِمّا حَدَّثتنا.ووقَعَ فِي رِوايَتنا بِالنَّصبِ والتَّنوِين.وحَكَى ابن التِّين أَنَّهُ وقَعَ لَهُ بِغَيرِ تَنوِين وقالَ مَعناهُ كُفَّ عَن لَومهنَّ، وقالَ الطِّيبِيُّ: الأَمر بِتَوقِيرِ رَسُول الله K مَطلُوب لِذاتِهِ تُحمَد الزِّيادَة مِنهُ، فَكَأَنَّ قَوله ) إِيه ) استِزادَة مِنهُ فِي طَلَب تَوقِيره وتَعظِيم جانِبه، ولِذَلِكَ عَقَّبَهُ بِقوله: (والَّذِي نَفسِي بِيَدِهِ إِلَخ) فَإِنَّهُ يُشعِر بِأَنَّهُ رَضِيَ مَقالَته وحَمِدَ فِعاله، واللَّهُ أَعلَمُ. قوله: (فَجًّا) ؛ أَي طَرِيقًا واسِعًا.وقوله: (قَطّ ) تَأكِيد لِلنَّفيِ.قوله: (إِلاَّ سَلَكَ فَجًّا غَير فَجِّك ) فِيهِ فَضِيلَة عَظِيمَة لِعُمَر تَقتَضِي أَنَّ الشَّيطان لا سَبِيل لَهُ عَلَيهِ، لا أَنَّ ذَلِكَ يَقتَضِي وُجُود العِصمَة إِذ لَيسَ فِيهِ إِلاَّ فِرار الشَّيطان مِنهُ أَن يُشارِكهُ فِي طَرِيق يَسلُكها، ولا يَمنَع ذَلِكَ مِن وسوسَته لَهُ بِحَسَبِ ما تَصِل إِلَيهِ قُدرَته.فَإِن قِيلَ عَدَم تَسلِيطه عَلَيهِ بِالوسوسَةِ يُؤخَذ بِطَرِيقِ مَفهُوم المُوافَقَة لأَنَّهُ إِذا مَنَعَ مِنَ السُّلُوك فِي طَرِيق فَأَولَى أَن لا يُلابِسهُ بِحَيثُ يَتَمَكَّن مِن وسوسَته لَهُ فَيُمكِن أَن يَكُون حُفِظَ مِنَ الشَّيطان، ولا يَلزَم مِن ذَلِكَ ثُبُوت العِصمَة لَهُ لأَنَّها فِي حَقّ النَّبِيّ واجِبَة وفِي حَقّ غَيره مُمكِنَة.ووقَعَ فِي حَدِيث حَفصَة عِند الطَّبَرانِيِّ فِي )الأَوسَط ) بِلَفظِ )إِنَّ الشَّيطان لا يَلقَى عُمَر مُنذُ أَسلَمَ إِلاَّ خَرَّ لِوجهِهِ ) وهَذا دالّ عَلَى صَلابَته فِي الدِّين، واستِمرار حاله عَلَى الجِدّ الصِّرف والحَقّ المَحض، وقالَ النَّووِيّ: هَذا الحَدِيث مَحمُول عَلَى ظاهِره وأَنَّ الشَّيطان يَهرُب إِذا رَآهُ وقالَ عِياض: يَحتَمِل أَن يَكُون ذاكَ عَلَى سَبِيل ضَرب المَثَل، وأَنَّ عُمَر فارَقَ سَبِيل الشَّيطان وسَلَكَ طَرِيق السَّداد فَخالَفَ كُلّ ما يُحِبّهُ الشَّيطان، والأَوَّل أَولَى، انتَهَى .

 

Terjemah:

(Imam Bukhori) mengatakan: “Diriwayatkan dari ‘Abd al-Hamid bin’ Abd al-Rahman ibn Zayd” yakni Ibn al-Khattab. Dan di dalam sanad terdapat empat orang tabi’in  yang terkait, berupa dua orang teman yaitu Sholih yakni ibnu kaisan dan Ibnu Syihab, dan dua saudara yaitu Abdul Hamid dan Mohammed bin Saad, mereka semua adalah orang madinah.

(Imam Bukhori) mengatakan: “Umar meminta idzin kepada Rasulullah sedang bersamanya perempuan Quraisy” mereka adalah istri-istri beliau, dan ada kemungkinan bahwa bersama mereka terdapat perempuan-perempuan selain mereka, akan tetapi qorinah (petunjuk) dalam perkataan Imam Bukhori “mereka sedang mengeluh kepada beliau” menguatkan (kemungkina) yang pertama, dan yang dimaksud adalah bahwa mereka meminta sesuatu (sudah harusnya) beliau berikan kepada mereka dari beliau. dan Imam Addawudi berpendapat bahwa yang dimaksud adalah mereka banyak-banyak berkata disamping beliau, dan pendapat itupun ditolak berdasarkan apa yang dijelaskan dalam haditsnya Jabir riwayat Imam Muslim bahwa mereka meminta nafkah. Dia (Imam Bukhori) berkata : “Tinggi” dibaca rofa’ atas sifat dan dibaca nashob atas hal. Dan dia (Imam Bukhori) berkata: “suara mereka lebih keras dari suaranya (Nabi)”. Ibnu Tin berkata: ‘berkemungkinan bahwa itu terjadi sebelum turunnya larangan akan mengeraskan suara (lebih keras) dari suaranya, atau mungkin itu memang sudah wata mereka’, selesai. Dan Imam yang lain mengatakan: ‘ada kemungkinan bahwa kerasnya suara mereka dikarenakan mereka banyak, bukan karena setiap dari mereka suaranya lebih lantang dari suara Nabi’, Dan inilah yang sependapat. Dikatakan juga ada kemungkinan bahwa diantara mereka memang ada yang bersuara keras, atau larangan (bersuara keras) itu hanya bagi laki-laki saja. Dan dikatakan juga itu sudah menjadi hak mereka (menaikkan suara), atau mereka sedang dalam keadaan konflik sehingga mereka tidak sengaja (menaikkan suara), atau (dalam keadaan) ingin meyakinkan. Dan kemungkinan itu berada dalam tempat yang sepi (sehingga terdengar keras) bukan tempat ramai. Dia (Imam Bukhori) berkata: “Allah membuatmu tertawa pada seusiamu)” bukan bemasud mendoakan agar banyak tawa, akan tetapi lazimnya adalah bahagia, atau meniadakannya yaitu kesedihan.

Dia berkata: “apakah kamu menghormatiku?” dari kata الهَيبَة (hormat) yakni kamu menghormatiku. Dia berkata: “kamu lebih keras dan lebih kuat”. berkumpulnya dua sifat dengan sighoh أَفعَل التَّفضِيل, kata الغِلظَة itu menghendaki persekutuan dalam asal pekerjaan, terdapat dalam firman Allah: {apabila kamu kasar dan keras hati maka mereka akan berpaling dari sekitarmu} sesungguhnya itu menghendaki bahwa Nabi tidaklah kasar dan tida pula keras. Dan jawabannya bahwa yang dikendaki dalam ayat meniadakan hal itu padanya adalah sifat keharusan, maka tidak harus apa yang dalam hadit begitu, akan tetapi murni adanya sifat padanya dal beberapa keadaan, seperti saat mengingkari hal yang munkar. Allah Maha Lebih Mengetahui. Sebagian ulama membolehkan bahwa الأَفَظّ disini berarti الفَظّ (keras). Nabi tidak menghadapi seseorang dengan apa yang ia benci kecuali menyangkut hak-hak Allah. Dan umar suka berlebihan dalam menegur dari perkara yang dibenci (Allah) dan mengerjakan perkara yang sunnah, maka karena inilah perempuan-perempuan begitu terhadapnya. Dia berkata: “إِيهًا ابن الخَطّاب” ahli bahasa mengatakan إِيهًا  dengan fathah dan tanwin artinya jangalah kamu memulai pembicaraan, dan dengan tanpa tanwin artinya cukup sampai disini perbincangan kita, dan إِيهٍ dengan kasroh dan tanwin artinya bicaralah semaumu, dan dengan tanpa tanwin artinya teruskan apa yang kamu bicarakan. Dan yang ada pada riwayat ini adala dengan nashob dan tanwin. Ibnu Tin menceritakan bahwa yang ada pada riwayat adalah dengan tanpa tanwin dan artinya adalah sudah cukup bercandanya. Attibiy berkata: memuliakan Nabi adalah perkara yang dianjurkan, memuji kelebihan beliau, seakan-akan ungkapan Nabi إِيه  adalah menambahkan darinya dalam menganjurkan memujinya dan menghormati sekitarnya, dan karena itulah setelahnya Nabi berkata: “(والَّذِي نَفسِي بِيَدِهِ إِلَخ) sesunggunya ia merasa bahwa dia meridoi ucapannya dan memuji perbuatannya. Wallahu a’lam. Dia berkata: (فَجًّا) yakni jalan yang luas. Dan dia berkata (قَطّ) sebagai penguat untuk meniadakan. Dan dia berkata: “kecuali menempuh jalan selain jalanmu” didalamnya terdapat keutamaan yang besar pada umar, menghendaki bahwa tidak ada jalan (menggoda) bagi syaiton terhadapnya. Bukan berarti adanya العِصمَة (terhindar dari maksiat) melainkan hanya larinya setan darinya tidak sanggup bersama dijalan yang umar lalui. Dan tidak mencegah dari menggodanya berdasarkan kemampuan yang sampai kepadanya. Maka apabila dikatakan setan tidak memililki kemampuan untuk menggodanya maka di pahami dengan pemahaman yang pas, karena sesungguhnya apabila mencegah dari jalan, maka lebih utama untu tidak memakainya berdasarkan kemampuannya dari godaannya terhadapnya, maka mungkin bahwa umar dijaga dari setan, dan tidak mengharuskan adanya العِصمَة  pada dirinya, karena adalah hak wajib yang harus ada pada Nabi, dan pada selain Nabi haya mungkin. Dan terdapat dalam hadisnya حَفصَة عِند الطَّبَرانِيِّ  dalam kitab الأَوسَط dengan lafdz “sesungguhnya setan tidak menemui umar sejak masu islamnya kecuali menundukkan kepala” dan ini menunjukkan kokohnya dalam agama, dan terus menerusnya dalam kesungguhan yang murni dan kebenaran yang pasti. Imam Nawawi berkata: hadis ini mahmul pada dhohirnya,  dan sesungguhnya setan lari ketika melihatnya. Qodi ‘iyad mengatakan: ada kemunginan bahwa itu hanya sebagai perumpamaan saja, dan sungguh umar telah membedakan jalan setan maka mengingkari segala sesuatu yang disuai syaiton. Dan pendapat yang pertama yang lebih utama. Selesai.

 

 

[1]  Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Ibn Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizabah, Sahih al-Buhari, juz 4 (Lebanon: Dar Al-kotob Al-Ilmiyah, 2009), hlm.106

[2] Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Ibn Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizabah, Sahih al-Buhari, juz 4 (Lebanon: Dar Al-kotob Al-Ilmiyah, 2009), hlm. 353

[3] Faqihuddin Abdul Kodir, 60 Hadis hak-hak perempuan dalam islam, hlm. 53-54