HADIS BIDARA

Latihan 3

HADIS BIDARA

Oleh: Adah Fuadah, Siti Sadiah, Rizqi Qoyyidunnafs Biddin

  1. Teks Hadis dan Terjemahan

61 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ. قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ. حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ الْمُهَاجِرِ, قَالَ: سَمِعْتُ صَفِيَّةَ تُحَدِّثُ عَنْ عَائِشَةَ, أَنَّ أَسْمَاءَ سَأَلَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ غُسْلِ الْمَحِيْضِ؟ فَقَالَ: “تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ. فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ. ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيْدًا. حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا. ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ. ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا” فَقَالَتْ أَسْمَاءُ: وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا؟ فَقَالَ: سُبْحَانَ اللهِ! تَطَهَّرِيْنَ بِهَا” فَقَالَتْ عَائِشَةُ (كَأَنَّهَا تُخْفِي ذَلِكَ) تَتَبَّعِيْنَ أَثَرَ الدَّمِ. وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ فَقَالَ: “تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ. فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ. أَوْ تُبْلِغُ الطُّهُورَ. ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ. حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا. ثُمَّ تُفِيْضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ” فَقَالَتْ عَائِشَةُ: نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ! لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّيْنِ (رواه مسلم)[1]

Terjemahan:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar Ibnu al-Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ibrahim bin al-Muhajir dia berkata, saya mendengar Shafiyyah menceritakan dari Aisyah bahwa Asma’ bertanya kepada Nabi saw. tentang mandinya orang yang haid. Beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian mengambil air dan daun bidara. Maka bersucilah dia dan sempurnakanlah dalam bersucinya. Kemudian tuangkanlah air di kepalanya sambil memijat-mijatnya dengan kuat hingga meresap pada akar rambutnya, kemudian tuangkan air ke sekujur tubuhnya, setelah itu ambillah sepotong kapas yang sudah diberi minyak wangi yang digunakan untuk membersihkannya.” Asma’ berkata; ‘Bagaimana cara membersihkannya?’ beliau bersabda; “Subhanallah, bersihkanlah dengannya.” Lalu Aisyah berkata dengan melirihkan suaranya; ‘Kamu bersihkan sisa-sisa darah tersebut dengan kapas.’ Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, beliau bersabda: “Hendaklah ia mengambil air, kemudian bersuci dan memperbagus bersucinya atau menyempurnakan bersucinya. Kemudian menuangkan air di kepalanya sambil memijat-mijat hingga meresap pada akar kepalanya, setelah itu menuangkan air ke seluruh tubuhnya.” Aisyah berkata; ‘Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menjadi penghalang mereka untuk mendalami masalah agamanya.”[2]

  1. Keterangan Hadis

Berdasarkan penelusuran atas kata سِدْرَةٌ dalam Mu’jam[3] hadis ini dapat ditemukan di Shahih Muslim, Kitab حيض, bab 61, dan di Musnad Ahmad bin Hanbal, bab 6, 147, 188.

Pada sesi ini penulis ingin memaparkan sedikitnya tentang kualitas hadis yang menjadi pokok pembahasan pada makalah ini, dari penelusuran data yang kami kaji dengan landasan definisi hadis shahih yaitu ketersambungan sanad, kedhabitan serta keadilan rawi, dan terhindarnya matan dan hadis dari syadz serta ‘ilat.

Pertama, ketersambungan sanad. Hal ini bisa kita lihat dari biografi masing-masing rawi. Setelah penulis telusuri biografinya antara rawi satu dan yang lainnya  memiliki hubungan guru-murid, dengan jarak waktu dan tempat ia tinggal memungkinkan mereka saling bertemu dan saling belajar dan mengajarkan hadis, hal ini juga diperkuat dengan cara penerimaan hadis atau yang biasa disebut tahammul wal ada’, metode yang digunakan sima’i dengan sighat حَدَّثَنَا dan سَمِعْتُ.

Kedua, kedhabitan serta keadilan para perawi hadis. Setelah pemakalah telusuri biografinya di kitab Tahdzib, hampir keseluruhan berkedudukan tsiqah kecuali satu perawi yaitu Ibrahim dari kalangan tabi’in hanya berkedudukan maqbul. Adapun dalam matan tidak ada yang bertentangan dengan riwayat lain dan tidak ditemukan ‘ilal serta syadz maka bisa disimpulkan hadis ini merupakan hadis hasan.

Jika ditinjau dari segi kuantitasnya, hadis ini merupakan hadis mutawatir billafdzi karena cukup banyak hadis yang ditemukan di kitab-kitab primer hadis dengan lafadz yang berbeda-beda.

2. Hadis Terkait

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْمُهَاجِرِ، قَالَ: سَمِعْتُ صَفِيَّةَ تحَدَّثُ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ أَسْمَاءَ سَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ غُسْلِ الْمَحِيْضِ؟ قَالَ: “تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ، فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدَلِّكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى يَبْلُغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ، ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا “، قَالَتْ أَسْمَاءُ وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا؟ قَالَ: “سُبْحَانَ اللَّهِ، تَطَهَّرِي بِهَا”، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: كَأَنَّهَا تُخْفِي ذَلِكَ: تَبْتَغِي أَثَرَ الدَّمِ. وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ: “تَأْخُذِينَ مَاءَ فَتَطَهَّرِينَ، فَتُحْسِنِينَ الطُّهُورَ، أَوْ أَبْلِغِي الطُّهُورَ، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدَلِّكُهُ حَتَّى يَبْلُغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا، ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ”، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ، لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ (رواه أحمد)[4]

3. Anjuran Mandi (Bersuci) Dengan Daun Bidara

Wanita yang telah selesai masa haidnya maka diwajibkan untuk mandi, serta tidak boleh ditunda-tunda apalagi jika telah masuk waktu shalat. Dalam tata cara mandi (bersuci), Rasulullah saw. menganjurkan bagi kaum wanita hendaknya menyediakan air dan daun bidara. Maksud daun bidara disini adalah daun bidara yang telah ditumbuk. Fungsinya sebagai pengganti sabun, sehingga dari daun tersebut memang ada manfaat yang bisa diambil berkenaan dengan urusan mandi. (Intinya supaya lekas keset/bersih).[5] Selanjutnya berwudhu secara sempurna. Sesudah itu, tuangkan air ke kepala sembari menggosok-gosoknya dengan benar-benar hingga air mencapai pangkal rambut. Sesudah itu meratakan air ke seluruh tubuh. Selanjutnya, mengambil sejumput kapas atau kain halus yang sudah diolesi minyak wangi lalu digunakan untuk membersihkan bekas darah itu dengannya”.

Imam An-Nawawi berkata: “Jumhur ulama berkata (bekas darah) adalah farji (kemaluan).” beliau berkata: “di antara sunnah bagi wanita yang mandi dari haid adalah mengambil minyak wangi kemudian menuangkan pada kapas, kain atau semacamnya, lalu memasukkannya ke dalam farji setelah selesai mandi, hal ini disukai juga bagi wanita-wanita yang nifas karena nifas adalah haid”.[6]

4. Pengenalan kepada Bidara

Bidara (Ziziphus Mauritiana Lamarck.) merupakan sejenis pohon kecil penghasil buah yang banyak tumbuh di kawasan tandus. Tanaman ini turut dikenal dengan perbagai nama (common names) mengikut negara. Antaranya Bidara, Epal Siam dan Jujub (Malaysia); Manzanitas (Filipina); Zee-pen (Burma); Putrea (Kemboja); Than (Laos); Phutsaa, ma tan (Thailand); Tao, tao nhuc (Vietnam). Dalam bahasa Inggris, ia dikenal sebagai Jujube, Indian Jujube, Indian Plum, Chinese Apple atau Jujubier dalam bahasa Perancis.[7]

Ziziphus Mauritiana merupakan tumbuhan asal Asia Selatan dan Afrika Utara. Pokok bidara telah berkembang secara semula jadi dari kawasan tropika Afrika kepada wilayah yang luas di Algeria, Tunisia, Libya, Mesir, Uganda dan Kenya (Afrika); Afghanistan, Pakistan, India Utara, Nepal, Bangladesh, Selatan China, Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaysia, Indonesia hingga ke Australia. Seterusnya meluas ke kawasan Pasifik dan tempat-tempat lain. Kini bidara banyak ditanam di negara Afrika hingga kepulauan Madagascar. Negara yang menanam bidara bagi tujuan komersial ialah India, China dan sebagian wilayah Thailand.[8]

Tanaman ini dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi, tetapi tumbuhan ini lebih menyukai udara yang panas dengan curah hujan berkisar antara 125 mm dan di atas 2000 mm. Suhu maksimum agar dapat tumbuh dengan baik adalah 37 – 48 C, dengan suhu minimum 7 – 13 C. Tanaman ini umumnya ditemukan pada daerah dengan ketinggian 0 – 1000 mdpl.[9]

 

5. Bidara Menurut Al-Qur’an dan Hadis

Bidara (al-Sidr) telah dinyatakan dalam al-Qur’an dan hadis. Pembahasan mengenai bidara lazimnya meliputi perbincangan nash meliputi beberapa surah, yaitu; Bidara turut dinyatakan menerusi kalam Nabi saw. dan diperincikan manfaatnya. Antaranya ialah kegunaan bidara dalam mandi wajib wanita yang baru suci dari haid;

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a, “(Apabila hendak mandi wajib) salah seorang antara kalian (wanita haid), ambil air yang dicampur dengan daun bidara lalu bersuci (sehingga sempurna). Kemudian tuangkan air di atas kepala seraya menggosok sehingga sampai air ke akarakar rambutnya, kemudian ratakan seluruh tubuh dengan air.” (HR. Muslim).

Kesimpulan dari himpunan nash tersebut di atas, dapat dinyatakan bahwa bidara merupakan tumbuhan surga. Allah swt. menjanjikan kenikmatan kepada penghuni surga di samping pohon bidara. Nabi saw. turut memperingatkan mengenai pentingnya daun bidara sebagai campuran dalam bersuci atau mandian. Pohon bidara turut memainkan peranan penting dalam ekosistem. Sifatnya yang tahan lasak dan kewujudannya di kawasan tandus menjadikannya penting sebagai nadi persekitaran sehingga Nabi saw. melarang memusnahkannya.[10]

6. Tafsiran Ulama’ terhadap Tumbuhan Bidara yang dinyatakan dalam Al-Qur’an dan Hadis serta Nama Saintifik

  • Sidr (سدر / سدرة)

Lafadz sidr atau sidrah diulang sebanyak 4 kali yaitu 3 kali dengan perkataan sidr dan sekali dengan perkataan sidrah. Menurut Kamus Besar Dewan Arab-Melayu, perkataan sidr bermaksud pokok bidara. Merujuk kepada Tafsir Pimpinan Rahman, perkataan sidr diterjemahkan sebagai pokok bidara. Allah swt. menyebut tentang sifat pokok bidara ini di dalam surga dengan perkataan makhdud (مخضود) yaitu tidak berduri. Ibn Katsir (w. 774 H) berpendapat, disebutkan pokok bidara yang tidak berduri karena pokok bidara ketika di dunia mempunyai banyak duri dan menghasilkan buah yang sedikit. Sebaliknya di akhirat (surga) pokok bidara itu mempunyai banyak buah dan tidak berduri.[11]

Terdapat perbedaan mengenai penamaan pokok ini dalam nama saintifiknya, perbedaan tersebut bisa dilihat di dalam jadwal berikut:

Jadwal: Perbedaan nama spesies bagi perkataan sidrah

Spesies Rujukan
Cedrus deodara Shafaqat et al. (2010)
Ziziphus spina-christi  Khafagi et al. (2006)
Ziziphus mauritiana Marwat et al. (2009)
Cedrus libani Farooqi (2003)

 

Berdasarkan jadwal di atas, terdapat empat nama spesies dengan dua genus yang berbeda bagi perkataan sidrah. Ziziphus spina-christi dan Ziziphus mauritiana adalah dari genus Ziziphus yaitu pokok bidara. Sedangkan Cedrus deodara dan Cedrus libani adalah dari genus Cedrus.

Rasulullah saw. pun menyarankan agar memandikan mayat dengan menggunakan daun bidara, dan perkataan yang digunakan juga adalah sidr. Kebiasaan masyarakat memandikan mayat dengan daun bidara merupakan sunnah Rasulullah saw., dan masyarakat menggunakan daun bidara dari genus Ziziphus.[12]

7. Pengetahuan Botani Tentang Bidara

Berikut dinyatakan pengenalan, ekologi, potensi, sifat dan manfaat bidara;

 

Ziziphus Mauritiana Lamarck (Bidara)

Kingdom Plantae
Divisi Magnoliophyta
Kelas Magnoliopsida
Ordo R osales
Keluarga Rhamnaceae
Genus Ziziphus
Spesies Z. mauritiana

Bidara atau nama saintifiknya Ziziphus Mauritiana merupakan sejenis pokok renek malar hijau yang tumbuh sekitar Asia dan Asia Selatan. Pokok bidara berbentuk renek berduri dengan ketinggian sehingga 15 meter dengan batang berdiameter 40 cm atau lebih. Rimbunan daunnya meredup, banyak dahan merendang dan mempunyai duri stipular. Daunnya berbentuk ovate atau bujur eliptik dengan 3 urat lekuk membujur di pangkal. Panjang daunnya kira-kira 2.5-3.2 cm, 1.8-3.8 cm lebar dan mempunyai gigi halus pada pinggirnya. Daunnya berwarna hijau gelap dan berkilat di sebelah atas, serta berwarna hijau pucat atau hijau kelabu di bagian bawah bergantung kepada iklim dan persekitaran. Pokok bidara cepat membesar dan mula menghasilkan buah dalam tempo tiga tahun.[13]

Buahnya lembut, berair, berbiji dan boleh mencecah 2.5 cm – 6.25 cm panjang dan 4.5 cm lebar bergantung kepada jenis dan kaidah penanaman. Bentuk buah hampir bujur-melonjong. Kulitnya licin berkilat, tipis dan padat. Buahnya berwarna hijau ketika muda, kuning ketika masak dan merah apabila matang sepenuhnya. Teksturnya lembut, berair dan mempunyai aroma yang menyelerakan. Tekstur isinya menyerupai epal apabila masak, isinya putih dan rangup, masam tetapi manis. Buah yang terlalu masak, tekstur isinya berwarna krim, menjadi kurang rangup apabila dimakan, permukaan luarnya pula berkedut, lembut dan berbau hapak.

Dalam buah bidara, terdapat biji keras di bagian tengah, berbentuk bujur atau lonjong yang mengandungi dua biji benih bujur, coklat, sepanjang 6 mm. Bunga bidara pula berukuran kecil, berwarna kuning, mempunyai lima kelopak dan biasanya tumbuh di celah daun. Spesies bidara yang terkenal ialah Jujube Cina dan Jujube India. Jujube India bersifat lebih tropika manakala Jujube Cina merupakan spesies yang tahan lasak hidup di wilayah beriklim sejuk.[14]

8. Agro Ekologi Bidara

Pokok bidara mudah beradaptasi dan tumbuh meliar di kawasan pinggir hutan, tepi jalan, tebing sungai dan bukit di wilayah tropika dan subtropika. Bidara tumbuh di dalam kawasan dimana purata suhu tahunan; minimum 7 – 13 sehingga maksimum 37 – 48 derajat celcius; purata hujan tahunan 15 – 225 mm dan boleh hidup pada ketinggian 1500 m dari paras laut. Namun begitu, dalam ketinggian melebihi 1000 m dari paras laut, pokok bidara sudah tidak mampu membesar dengan baik serta proses pengeluaran buah menjadi kurang produktif.

Kualitas buah bidara paling baik terhasil ketika keadaan panas, kering dan menerima cahaya matahari yang cukup. Namun begitu, pokok bidara turut memerlukan musim hujan untuk menyokong kelangsungan tumbesaran dan pendebungaan. Ini sekaligus meninggalkan lembapan tanah yang cukup untuk membantu proses kematangan buah.

Kesimpulannya, bidara merupakan pokok yang tahan lasak dan mampu hidup dalam suhu dan cuaca ekstrem. Ia cukup dikenal dengan keupayaannya bertahan dalam berbagai musim dan boleh tumbuh di atas berbagai jenis tanah dan permukaan.[15]

9. Nilai Nutrisi dan Perobatan Bidara

Kandungan komposisi nutrien dari 100 gram buah bidara dilaporkan memiliki kelembapan (moisture) 81.6 g, tenaga 74 kcal, protein 0.8 g, lemak 0.3 g, karbohidrat 17 g, ash 0.3 g, karoten 21 mg, vitamin C 76 mg, Fe 0.5 mg dan Ca 4 mg. Buah bidara mengandung gula galaktosa, fruktosa, glukosa, asid sitrik organik, asid malonik dan asid malik.

Penyiasatan saintifik mendedahkan bahwa bagian-bagian Ziziphus Mauritiana turut mempunyai perbagai nilai tambah dari segi pharmacological seperti antioksida, hepatoprotective, antidiarrhoel, antimicrobial, antihyperglycemic/hypoglycemic dan antiplasmodial.[16]

10. Kegunaannya Sebagai Obat-obatan Tradisional

Di India, buah bidara dipercayai mampu menyucikan darah dan merawat masalah penghadaman. Buah bidara tersebut akan diberi makan kepada pesakit yang menghadapi masalah penghadaman, sakit pulmonari dan demam. Irisan buah bidara boleh diaplikasikan pada luka dan ulser. Biji buah bidara bersifat sedative dan lazimnya dikonsumsi bagi merawat pening-pening, muntah dan sakit abdomen ketika mengandung.[17]

Buah bidara merupakan sumber karoten, vitamin A, C dan lemak. Buah bidara segar (misalnya Indian Jujube) memiliki rasa masam sederhana dan isi yang rangup. Buah bidara boleh dimakan terus, dikupas atau dijadikan minuman. Selain itu, ia turut boleh dimakan dengan sambal, gula dan garam atau dijadikan rujak. Di beberapa negara, buah bidara lazimnya dijadikan manisan, jem dan bahan pembuatan kek. Di Venezuela, arak khas dihasilkan dari buah bidara dan dijual sebagai Crema de ponsigue. Di Zimbabwe, buah bidara akan dikeringkan dan dimanfaatkan sebagai bahan dalam bubur, kek tradisional dan mahewu (sejenis bubur).

Di Indonesia, daun bidara muda dijadikan sayuran dan obat sakit mata. Daun yang tua dimanfaatkan sebagai makanan bernutrisi kepada hewan ternakan komersial. Selain itu, daun bidara dijadikan makanan ulat sutera tasar untuk mengeluarkan sutera tasar yang berkualitas tinggi. Air rebusan daunnya turut diminum sebagai jamu. Daun-daun ini mengeluarkan buih seperti sabun apabila direbus dengan air dan digunakan untuk memandikan orang yang sakit dan demam. Di Malaysia, daun bidara digunakan ketika proses memandikan mayat.

Selain daun, buah, biji, kulit kayu dan akarnya yang berkhasiat sebagai obat untuk membantu pencernaan dan menampal luka. Di Indonesia, kulit kayu bidara digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan. Di Malaysia, kulit kayu bidara yang dihaluskan digunakan sebagai obat sakit perut. Kulit kayu pokok bidara dipercayai memiliki khasiat sebagai tonik kesehatan.

Kayu pokok bidara berwarna kemerahan, bertekstur halus, keras dan tahan lama. Ia boleh dijadikan kayu dalam industri pembinaan, barang hiasan dan perkakasan rumah. Di Bali, kayu bidara dimanfaatkan sebagai pemegang kapak, pisau, pahat dan peralatan pertukangan. Kayu bidara sesuai digunakan dalam pembuatan almari, kabinet dan kayu lapis.[18]

11. Aktivitas Antioksidan dari Daun, Buah dan Biji serta Penetapan Kadar Senyawa Fenolat

Masih banyak sebagian masyarakat yang belum mengenal tanaman bidara khususnya khasiat dan kandungan kimianya. Kandungan kimia yang terdapat pada tanaman bidara antara lain alkaloid, flavonoid, polifenol, tanin, dan terpenoid. Senyawa fenol dan flavonoid berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan. Antioksidan memiliki peranan penting dalam mencegah penyakit degenaratif.

Uji aktivitas aktioksidan ini dilakukan menggunakan metode peredaman radikal bebas 1,1 Difenil-1-Pikrihidrazil (DPPH). Penetapan kadar fenolat total dianalisis menggunakan reagen Folin Ciocalteu. Hasil yang didapat dalam penelitian ini bahwa ekstrak daun, buah dan biji memiliki kadar fenolat total berturut-turut 7,192% ± 0,0198, 5,115% ± 0,0052, dan 11,409% ± 0,0195. Aktivitas antioksidan dari ekstrak daun, buah, dan biji dengan nilai IC50 beturut-turut 127,87 ppm, 315,09 ppm, dan 205,85 ppm.[19]

Bidara banyak digunakan dalam pengobatan tradisional antara lain semua bagiannya (daun, buah, biji, akar, dan batang). Seperti yang dijelaskan dalam penelitian sebelumnya kandungan kimia yang berperaan sebagai pengobatan dalam tanaman bidara antara lain alkaloid, fenol, flavonoid, kuercetin, rutin, dan terpenoid.[20]

12. Aktivitas Antipiretik Ekstrak Daun Bidara

Daun Bidara (Ziziphus spina-christi L.) telah lama dikenal oleh masyarakat sebagai obat penyembuh demam. Aktivitas ekstrak daun Bidara (Ziziphus spina-christi L.) sebagai antipiretik.

Antipiretik merupakan golongan obat yang dipergunakan untuk menurunkan suhu tubuh bila demam. Demam didefinisikan suatu keadaan ketika suhu tubuh meningkat melebihi suhu normal. Demam terjadi ketika ada stimuli pada monosit makrofag yang sesuai, sel-sel ini menghasilkan sitokin pirogenik yang menyebabkan peningkatan set point lewan efeknya di hipotalamus.

Daun Bidara (Ziziphus spina-christi L.) merupakan salah satu tanaman yang dipercaya secara empiris oleh masyarakat sebagai tanaman obat tradisional untuk menurunkan panas (demam) sehingga perlu dilakukan penelitian yang bersifat ilmiah dalam hal ini aktivitas antipiretiknya untuk menurunkan suhu tubuh sehingga dapat dibuktikan keamanan dan pemanfaatannya.[21]

 

 

 

 

Tagged with: