KITAB SYARAH SUNAN ABI DAUD LI AL-AINI

Kelompok 8 :

  1. Siti Sakinnah Muna Mufidah
  2. Shintia Muayyadah

A. Sekilas tentang pengarang kitab Syarah Sunan Abi Daud li al-Aini

Al-Aini memiliki nama lengkap Muhammad Mahmud ibn Ahmad ibn Musa ibn Ahmad ibn Husain ibn yusuf ibn mahmud al- Aintabi al-Halbi al-Qahiri al-Hanafi, akan tetapi beliau lebih mesyhur dengan sebutan al-Aini, Abu al-Tsana ibn Syihab, Abu Muhammad, ataupun Badrudin. Beliau lahir pada bulan Ramadhan tahhun 762 H/1361 M.

Karya-karya beliau terhitung banyak diantaranya, Umdah al-qari syarah sahih Bukhori, Syarah sunan Abu daud lil Aini, maghani al-Akhyar fi rijal Ma’ani al-Atsar, tarikh al-Badar fi Aushaf Ahl Ashr, dan lain-lain. Beliau wafat pada malam selasa 4 Dzulhijjah 855H / 1451M dan dimakamkan di Mesir.

  1. Mengenal Kitab Syarah Sunan Abi Daud li al-Aini

Kitab ini merupakan salah satu kitab syarah alternatif atas Sunan Abu Daud, disamping Aunul Ma’bud karya Abu Thayibb, yang dinilai merupakan karya terbaik dalam hal ini. Diantaranya karya-karya ulama yang lain yang berusaha mensyarahin Sunan Abu Daud ialah diantaranya Ma’alim al Sunan karya Abu sulaiman Hamd ibn muhammad ibn ibrahim al khatabi.

Sang muhaqiq, Abu al-Mundzir Khalid ibn Ibrahim al-Mishri beliau berjasa besar dalam menyempurnakan kitab ini. Karena, sebagaimana diakui oleh Al-aini dalam kitab syrahnya yang lain. Adapun dalam penyempurnaanya, Abu al-Mindzir merujuk pada karya-karya lain yang merupakan syarah dari Sunan Abu Daud juga yaitu: 1. Al-Dhau al –Lami karya al-Sakhrawi (2) al-Badr al-Thali karya al syaukani, (3) Syadzarat al-Dzahab karya ibn al-imad (4) kasyf al Zhunun dan (5) al –A’lam karya al-Zarkali.[1]

 

B. Sistematika Penulisan Kitab

Abu al-Mundzir mengawali kitab ini dengan memaparkan berbagai pendapat. Yang sebagian besar memang memuji para ulama terkait kitab sunan Abu Daud. Beliau juga tak lupa mencantumkan biografi panjang pengarang kitab, yakni Badruddin al-Aini.

Selanjutnya masih dalam muqodimmah, beliau menjelaskan panjang lebar mengenai konsep-konsep ulum al-hadis yang dipergunakan Abu Daud dalam kitab sunannya. Beliau juga memaparkan perangkat-prangkat dan langkah-langkah yang digunakannya dalam mentahqiq kitab Syarah Abu Daud li al-Aini tersebut.

Kitab ibi terdiri dari 6 juz, termasuk juga daftar isi kitabnya, adapaun materi hadisnya terbagi kepada 4 bagian besar yaitu: 1. Kitab toharoh, terbagi kepada 131 bab. (2) kitab al Shalah terbagi kepada 353 bab. (3) kitab al-janaiz terbagi kepada 79 kitab (4) kitab al-zukah terbagi kepada 44 bab. Jika dibandingkan dengan karyanya dalam bidang syarah hadis yang lain yakni umdatul qari syarah shohih bukhari jauh lebih ringkas, karena didalamnya hanya memuat 1818 hadis saja. Hal ini memang wajar, karena memang kitab inimerupakan kitab syarahyang belum terselesaikan, sehingga tidak semua hadis sidalam sunan abu daud disyarahi didalamnya, lain halnya dalam umdah al qari.

Masih dalam muqadimmah Abu al-Mundzir mengemukakan hasilpenelitianya terhadap kitab syarah tersebut. Bahwa al-Aini dalam menyusun kitab syarahnya banyak mengutip dari berbagai kitab syarah, takhrij, rijal maupun bahasa.

 

  1. Metode syarah hadis

Adapaun metode yang digunakan al-Aini dalam kitab syarah Abu Daud li Al-Aini adalah antara lain:

  • Mencantumkan hadis dari Sunan Abu Daud, diantara huruf ص pada awal hadis (hadis disertai sanadnya secara lengkap.
  • Memulai pensyarahan dengan tanda ش pada awal paragrafnya.
  • Menjelaskan isi hadis dari kalimat perkalimatnya dari segi nahwu sharafnya.
  • Terkadang memaparkan informasi singkat mengenai rawi dalam hadis, disertai petunjuk cara membaca nama-namnya.
  • Terkadang menambahkan beberapa pendapat pribadinya ditandai dengan huruf صح
  • Pada akhirnya menyebutkan mukharij selain Abu Daud yang juga meriwayatkan hadis yang disyarahinya.
  • Terkadang menampilkan beberapa perbedaan pendapat dikalangan ulama dalam suatu hal. [2]

 

Penulis mencoba membandingkan syarah ini dengan pensyarah yang dilakukan oleh Abu al-Thayyib dalam kitab syarahnya terhadap Sunan Abu Daud yakni kitab Aunul ma’bud, Abu al-Thayyib dalam mensyarahi cenderunglebih ringkas jika dibandingkan syarah yang dikemukakan al-Aini dalam kitabnya. Abu al-Thayyib cenderung secara langsung mensyarahi kalimat perkalimat yan terdapat dalam hadis. Adapun al-Aini terlebih dahulu menyebutkan sisi kebahsaannya, semisal kedudukan kalimat tertentu dalam hadis tersebut menurut ilmu nahwu pada aspek bahasanya.

 

  1. Kelebihan dan kekurangan kitab
  • Kelebihan
    1. kelengkapan materi yang disampaikan dalam syarah meliputi syakal, makna kata, kalimat kaidah, nahwu sharaf, maupun informasi dasar tentang rawi.
    2. dalam pensyarahannya, sudah menggunakan simbol-simbol teretentu yang dapat lebih memudahkan pembaca untuk menegtahui dan memebedakan pandanganya sendiri mengenai suatu masalah.
    3. pensyarahnya terhitung lebih meluas, tak hanya sebatas menjelaskan makna kalimat per kalimat, tetapi terkadang juga menyebutkan keutamaan ataupun faidah yang terkandung dalam hadis.

 

  • Kekurangan
  1. Merupakan karya yang belum terselesaikan dengan sempurna, sehingga penjelasan (syarah) al-Aini terhadap kitab susunan milik Abu Daud kemungkinan belum tersampaikan dengan baik.
  2. Pada beberapa tempat malah cenderung lebih banyak membahas perihal prawi ketimbang makna kandungan hadisnya. [3]

Contoh 1. Kitab taharah, bab al-istinja bi al-Ma

ص- حد ثنا وهب بن بقية, عن خا لد الو اسطي, عن خالد- يعني: الحذاء- عن عطاء بن أبي ميمونة, عن أنس بن ملك: “أن رسول الله عليه وسلم د خل حا ئطا ومعه غلام معه ميصأة, وهو أصغر نا, فو ضعها عند السدرة, فقضى حا جته, فخر ج علينا وقد استنجى با لماء.

[4]

  • Wahb ibn Baqiyah ibn Utsman ibn Sabur ibn ‘Ubayd ibn Adam ibn Ziyad ibn Dhab’ ibn Qays ibn Sa’ad ibn ‘Ubadah abu Muhammad al-Wasithi, dikenal dengan sebutan “Wahban”, gurunya antara lain: khalid ibn ‘Abdullah, Ja’far ibn Sulaiman, Hasyim ibn Basyir, nuh ibn Qiyas; adapun muridnya antara lain ialah Imam Muslim, Imam Abu Daud, Hanbal ibn Ishaq, dan lain-lain. Ia lahir pada 155 H dan wafat pada 239 H.
  • Khalid ibn Mahran al-Hudza’ Abu al-Munazil al-Bashri al-Qurasyi, dan disebutkan bahwa ia merupakan seorang pemuka Bani Majasyi’. Gurunya antara lain adalah: Abu ‘Utsman al-Nahdiy, Atha’ ibn Abi Maymunah, Atha’ ibn abi Rabbah, dan lain-lain. Adapun muridnya diantaranya adalah: Muhammad ibn sirrin, al-A’masy, Manshur, ibn Juaraij, al-Tsauriy, Syu’bah, dan lainnya. Menurut Ibn Mu’ayyan: Tsiqah, sedang menurut Ahmad: Tsabt. Ia wafat pada 148 H. seluruh Imam yang enam meriwayatkan hadis darinya.
  • ‘Atha’ ibn Maymunah al-Basri, budaknya Anas ibn Malik, dikatakan juga bahwa ia adalah budak ‘Imran ibn Hushayn. Gurunya antara lain adalah: Anas ibn Malik, Abu Rafi’ al-Sha’ig, adapun muridnya antara lain: Khalid al-Hudza’, Rawah ibn al-Qasim dan Syubah. Menurut Abu Zur’ah: Tsiqah, adapun menurut Abu Hatim: Yahtaj bihaditsihi. Ibn ‘Adiy berpendapat: Dari sebagian hadis yang diriwayatkannya terdapat hadis munkar. Ia wafat pada 131 H. seluruh imam yang enam meriwayatkan hadis darinya, kecuali al-Timidzi.

 

 

 

 

 

[1] Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis Dari Klasik Hingga Kontemporer. hal: 212

[2] Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis Dari Klasik Hingga Kontemporer. hal: 214

[3] Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis Dari Klasik Hingga Kontemporer. hal: 215

[4] Abu al-Mundzir Khalid ibn Ibrahim al-Mishri, Syarah Sunan Abi Daud li al-‘Aini, juz 1. Hal: 138-141.