SIKSA KUBUR

  1. Kelompok 6
  2. Nama: Adeliawati Oktaviana
  3. Syarifatul Munah
  4. Muhamad Deden Js

 

  1. Siksa Kubur

Alam kubur adalah awal kehidupan hakiki dari seorang manusia. Mempelajari apa-apa yang terjadi di alam kubur banyak memberikan faedah. Orang yang mengetahui bahwa di alam kubur ada nikmat kubur tentu akan berusaha sebisa mungkin semenjak ia masih hidup agar menjadi orang yang layak mendapatkan nikmat kubur kelak. Orang yang mengetahui bahwa di alam kubur ada adzab kubur, juga akan berusaha sebisa mungkin agar ia terhindar darinya kelak. Nikmat dan adzab kubur adalah perkara ghaib yang tidak terindera oleh manusia. Manusia yang merasakannya pun tidak bisa mengabarkan kepada siapa yang hidup akan kebenarannya. Maka satu-satunya keyakinan kita akan adzab dan nikmatnya adalah dalil al Qur’an dan Hadis. Seperti pada hadis berikut ini:

عن أبي أيوب رضي الله عنهم قال خرج النبي صلى الله عليه وسلم وقد وجبت الشمس, فسمع صوتا فقال: يهود تعذب في قبورها

Artinya: Dari Abi Ayyub r.a berkata: “Nabi keluar rumah pada saat matahari terbenam, kemudian beliau mendengar suara, lalu beliau bersabda “Suara itu dari seorang Yahudi yang disiksa  di kuburnya”.

  1. Hadis Tentang Siksa Kubur

حدثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى حدثنا شعبة قال حدثني عون بن جحيفة عن أبيه عن البراء بن عازب عن أبي أيوب رضي الله عنهم قال خرج النبي صلى الله عليه وسلم وقد وجبت الشمس, فسمع صوتا فقال: يهود تعذب في قبورها[1]

Artinya: Muhammad bin al-Mutsana menceritakan kepada kami (berkata) Yahya menceritakan kepada kami (berkata) Syu’bah menceritakan kepada kami (yang) berkata: ‘Aun bin Abi Juhaifah menceritakan kepada saya (yang bersumber) dari ayahnya (yang berasal) dari al-Bara’ bin ‘Azib (yang bersumber) dari Abi Ayyub r.a berkata: “Nabi keluar rumah pada saat matahari terbenam, kemudian beliau mendengar suara, lalu beliau bersabda “Suara itu dari seorang Yahudi yang disiksa  di kuburnya”.

 

Hadis di atas bisa dicari dalam kitab “Mu’jam Mufahros” juz 3 halaman 434 dengan kata kunci yang digunakan “صوتا maka kalimat yang ditemukan adalah  فسمع صوتا فقال: يهود تعذب في قبورها. Dimana hadis tersebut terdapat pada:

  1. خ جنائز 88

Kitab Shohih Bukhori, kitab Janaiz, bab التعوذ من عذاب القبر Nomor 88.

  1. ن جنائز 114

Kitab Sunan an-Nasai, bab Janaiz, nomor 114.[2]

 

  1. Takhrij Hadis
  2. Biografi Perawi
  3. Muhammad ibn al Mutsanna

–     Nama               : Muhammad ibn al Mutsanna ibn ‘Abiid ibn Qoyis ibn Diinaar

–     Tempat            : Basroh

–     Tahun Lahir     : 167 H

–     Tahun Wafat   : 252 H

–     Guru                : Yahya ibn Sa’id al-Qathan

–     Jarh wa Ta’dil : ‘Abdullah bin Ahmad dari Ibnu Mu’iin berkata, bahwasanya Muhammad ibn al-Mutsana “Tsiqoh”. Abu Hatim berkata Muhammad  ibn al Mutsanna “Sholih al Hadis, Shuduq”.[3]

 

  1. Yahya bin Sa’id bin Furukh al Qothoon at-Tamimi
  • Nama : Yahya bin Sa’id bin Furukh al Qothoon at-Tamimi
  • Tempat : Basroh
  • Tahun Lahir : 120 H
  • Tahun Wafat : 198 H
  • Guru : Syu’bah
  • Murid : Muhammad ibn al Mutsanna
  • Jarh wa Ta’dil : Ibnu Sa’id “Kaana Tsiqoh”, Abu Hatim “Tsiqoh Hafidz”.[4]

 

  1. Syu’bah ibn al-Hajaj bin al-Warid
  • Nama : Syu’bah ibn al-Hajaj bin al Warid
  • Tempat : Basroh
  • Tahun Lahir : 82 H
  • Tahun Wafat : 160 H
  • Guru : ‘Aun bin Abi Juhaifah
  • Murid : Yahya bin Sa’id
  • Jarh wa Ta’dil : Yahya bin Sa’id al-Qathan “Saya tidak melihat satu hadis hasan dari Syu’bah”, Ibnu Sa’id “Kana Tsiqotun, Ma’munan, Tsabitan, hujjatan”. Abu Bakar Majubah “Syu’bah lahir pada tahun 82 H dan wafat pada tahun 160 H”. Ibnu Abi Hiysmah “Sesungguhnya Syu’bah wafat pada bulan Jumadil akhir”.[5]
  1. ‘Aun bin Abi Juhaifah
  • Nama : ‘Aun bin Abi Juhaifah
  • Tempat : Kuffah
  • Tahun Wafat : 116 H
  • Guru : Abu Juhaifah as-Suwai
  • Murid : Syu’bah
  • Jarh wa Ta’dil : Ibnu Mu’in, Abu Hatim dan an-Nasai berkata “Tsiqoh”, Ibnu Qoni’ berkata “’Aun bin Abi Juhaifah wafat pada tahun 116 H.[6]
  1. Wahab bin ‘Abdullah atau Abu Juhaifah as-Suwai
  • Nama : Wahab bin ‘Abdullah atau Abu Juhaifah as-Suwai
  • Tempat : Kuffah
  • Tahun Wafat : 74 H
  • Guru : al-Barai bin ‘Ajib
  • Murid : Anaknya, ‘Aun bin Abi Juhaifah
  • Jarh wa Ta’dil : al-Waqdi berkata “Abu Juhaifah bin ‘Abdullah wafat pada tahun 74 H.[7]

 

  1. al-Baroi bin ‘Ajibin bin al-Harits bin ‘Adi bin Mujdi’ah
  • Nama : al-Baroi bin ‘Ajibin bin al-Harits bin ‘Adi bin Mujdi’ah
  • Tempat : Kuffah
  • Tahun Wafat : 72 H
  • Guru : Abi Ayub
  • Murid : Abu Juhaifah
  • Jarh wa Ta’dil : Ibnu Hibban berkata “al-Baroi bin ‘Ajibin wafat pada tahun 72 H. Ibnu Qoni’ mengatakan di dalam kitab Mu’jam as-Sohabah “Sesungguhnya al-Baroi ikut perang bersama nabi sebanyak 15 kali.[8]
  1. Kholid bin Zaid bin Kalib bin Sa’labah bin ‘Abdi ‘Auf
  • Nama : Kholid bin Zaid bin Kalib bin Sa’labah bin ‘Abdi ‘Auf
  • Guru : Nabi Muhammad SAW
  • Murid : al-Baroi bin ‘Ajibin
  • Jarh wa Ta’dil : Hisam bin ‘Adi berkata “Kholid wafat pada tahun 50 H.” Al-Waqidi berkata “Kholid wafat pada tahun 52 H.” Sedangkan menurut ‘Abu Jar’ah ad-Dimasyqi Kholid wafat pada tahun 55H.”[9]
  1. Skema Sanad

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Kesimpulan Hasil Takhrij

Dari hasil data yang di dapat, hadis di atas termasuk hadis Qouli. Dan hadis diatas termasuk kategori hadis maqbul yang secara kualitas berstatus hadis shahih.

Dimana kriteria-kriteria hadis Shahih diantaranya adalah 1) rangkaian perawinya dalam sanad itu harus bersambung mulai dari perawi pertama sampai perawi terakhir; 2) para perawinya harus terdiri dari orang-orang yang dikenal tsiqqat, dalam arti ‘adil dan dhabit; 3) hadisnya terhindar dari ‘illat (cacat) dan syadz (janggal); dan 4) para perawinya yang terdekat dalam sanad harus sezaman.[10]

Uraian di atas jelas dapat disimpulkan, bahwa hadis di atas berstatus Shahih li dzatihi. Karena kriteria-kriteria hadis Shahih terpenuhi, mulai dari tersambungnya sanad, tidak ada illah atau syadz, para perawi terkenal tsiqoh, juga cara periwayatan yang digunakan dalam hadis diatas menggunakan al-Sama. Yang mana menurut ‘ulama, Bukhari menetapkan syarat keshahihan hadis dengan cara; “terjadinya periwayatan harus dengan cara al-Sama”.

  1. Syarah Hadis

قوله: (وجبت الشمس) أي سقطت, والمراد غروبها (فسمع صوتا) قيل يحتمل أن يكون سمع صوت ملائكة العذاب أو صوت اليهود المعذبين أو وصوت وقع العذاب. قلت: وقد وقع عند الطبراني من طريق عبد الجبار بن العباس عن عون بهذا السند مفسرا ولفظه خرجت مع النبي صلى الله عليه وسلم حين غربت الشمس ومعي كوز من ماء, فانطلق لحاجته حتى جاء فوضأته فقال: أتسمع ما أسمع؟ قلت. الله ورسوله أعلم. قال: أسمع أصوات اليهود يعذبون في قبورهم. (يهود تعذب في قبورها) هو خبر مبتدأ أي هذه يهود, ِأو هو مبتدأ خبره محذوف. قال الجوهري: اليهود قبيلة والأصل اليهوديون فحذفت ياِء الاضافة مثل زنج وزنجي ثم عرف على هذا الحد فجمع على قياس شعير وشعيرة ثم عرف الجمع بالألف والام ولولا ذلك لم يجز دخول الألف والام لأنه معرفة مؤنث فجرى مجرى القبلية وهو غير منصرفف للعلمية والتأنيث, وهو موافق لقوله فيما تقدم من حديث عائشة “إنما تعذب اليهود” وإذا ثبت ان اليهود تعذب بيهوديتهم ثبت تعذيب غيرهم من المشركين لأن كفرهم بالشرك أشد من كفر اليهود.[11]

Artinya: maksudnya jatuh atau lingsir yang dikehendaki adalah terbenamnya matahari. Kanjeng Nabi mendengar suara, bisa dikatakan bahwa Rasulullah mendengar suaranya malaikat azab atau suaranya orang-orang yahudi yang disiksa atau suaranya azab itu sendiri. Saya mengatakan telah ada menurut Imam Thobroni dari jalan Abdul Jabar bin Abbas dari ‘Aun dengan sanad ini yang menafsiri ketidak jelasan. Dan lafadznya sebagai berikut; Aku keluar bersama Nabi ketika matahari terbenam dan aku membawa cangkir yang berisi air. Maka Rasulullah pergi karena hajatnya sampai beliau datang terus aku pun wudhu dari air cangkir tersebut. Maka Rasulullah mengatakan: Apakah kamu mendengar apa yang aku dengar, maka saya menjawab hanya Allah dan Rasullnya yang tahu. Kata Rasulullah aku mendengar suara-suara orang yahudi yang disiksa didalam kubur mereka.

Yahudu itu adalah bentuk khobarnya mubtada, ay hajihi yahudu  menjadi mubtadanya, atau yahudu menjadi mubtada yang khobarnya dibuang. Imam al-Jauhari mengatakan (al-yahudu) yahudu itu adalah sebuah Qobilah, asalanya adalah al-Yahudiyuna terus ya idhofahnya dibuang seperti lafadz janjun wa janjiyun terus dibuat ma’rifat maka di makrifatkan dengan cara seperti ini . maka lafadz yahudu itu jama’nya mengikuti wajan sya’irun wa syari’atun, terus ma’rifat jama’nya yahudu itu dengan alif lam. Kalau  tidssk seperti tu maka tidak boleh masuk alif lam karena masuknya alif lam itu ma’rifatnya muannas maka ini berlaku seperti berlakunya lafadz al-qobilatu. Al-Yahudu itu lafadz ghoiru munsorif karena ilat nama, dan muanas. Ini sesuai dengan sabda Rasul pada bab yang telah lewat dari hadinya ‘Aisyah.”Innama tu’ajjabu al yahudu” . Ketika jelas bahwa Yahudi disiksa karena ke-Yahudiannya maka jelas pula siksa terhadap selainnya yahudi dari orang-orang musyrik. Karena kufurnya selain orang-orang Yahudi dengan menyekutukan Allah itu lebih berat dari pada kufurnya Yahudi.

  1. Siksa kubur menurut pandangan beberapa kelompok

 

  1. Materialisme dan muktazilah

Meskipun siksa kubur  memiliki landasan yang kuat dari hadis Nabi saw, seperti dalam shahih Muslim diriwayat kan bahwa aisyah berkata, “dua wanita tua yahudi Madinah masuk ke kamarku dan berkata, ‘sesungguh nya penghuni kubur itu di adzab di dalam kubur, Aku tidak mempercayai ucapan mereka dan belum siap membenarkan mereka. Sesaat kemudian mereka keluar dan Rasulallah Saw masuk. Aku berkata,’wahai Rasulallah, dua tua wanita Yahudi memasuki kamarkudan mengatakan bahwa penghunu kubur di adzab di dalam kubur,’ Beliau bersabda, ‘mereka benar. Penghuni kubur di adzab dengan adzab yang dapat di dengar oleh hewan ternak.

akan tetapi masih terdapat orang dari kelompok materilisme (naturalis) yang menilai hadis tersebut musykil dari sisi logika dan nalar manusia. Menurutnya, orang yang mati sama seperti bangkai lain, tenang tak bergerak serta tidak memiliki rasa dan perasaan. Bagaimana mungkin bangkai seperti itu dapat menerima siksaan bagaimana mungkin dapat Tanya jawab duduk dengan malaikat? Apabila bangkai itu dari orang kafir dia tidak bisa menjawab, kemudian malaikat memukul dengan martil besi sehingga tulangnya remuk, serta apabila dia mukmin lalu dia akan menerima kenikmatan dan kenyamanan, maka mengapa ketika mayit itu ditengok berkali kali, tetap dalam keadaan utuh seperti patung kaku yang tidak merasakan apapun? Mengapa agama islam sebagai agama akal dapat bertentangan dengan akal dunia nyata dan intuisi?

Demikian pandangan dari kalangan materialisme dan kaum muktazilah yang menentang pendapat adanya siksa kubur, padahal hadits Nabi saw sangat jelas menginformasikan hal tersebut.

  1. Said Nursi

Menurut penafsiran Said Nursi terhadap suatu ayat al Quran surat al Mulk menyatakan bahwa kematian merupakan eksistensi yang diciptakan Allah dan sekaligus sebagai tanda kekuasaan Allah. selain itu, Nursi justru menganggap kematian sebagai sebuah anugrah. Artinya, kematian yang merupakan proses peralihan dari eksistensi dunia menuju eksistensi lain, merupakan proses pembebasan dari segala macam kewajiban hidup. Oleh karena itu kematian bukanlah perjalanan menuju ketiadaan tetapi jalan menuju kepada keadaan lain.

Secara sederhana pandangan Said Nursi dapat diringkas dalam kalimat yang simple yang mudah dipahami bahwa kematian adalah peralihan dari eksistensi dunia hidup menuju eksistensi dunia lain yang keduanya diciptakan oleh Allah. karena diciptakan berarti ada, dan eksis, eksistensi kematian ini pun akan berlanjut menuju proses perjalanan akhir kehidupan, akhirat, melalui apa yang disebut dengan “hari kebangkitan”

Dari perspektif lain, meninggalnya manusia tidak menjadi penghalang manusia (roh-nya) disiksa, diberi nikmat, bahagia-sengsara meskipun hal itu tidak dapat disaksikan sebagaimana tidak dapat dilihatnya roh itu sendiri. Jika manusia tidak dapat melihat siksa dan nikmat di alam kubur, bukan berarti keduanya tidak ada dalam kenyataan, sebagaimana tidak dapat melihat roh tidak berarti bahwa ia tidak ada. Kematian yang merupakan perpindahan dari eksistensi ke eksistensi lain diibaratkan seperti orang tidur, yang dalam tidurnya merasakan peristiwa layaknya seperti keadaan sadar. Kalau dilihat, orang tidur tersebut  tidak kelihatan bergerak, tidak berbuat sesuatu, tidak merasakan sakit, tetap membujur kaku. Karenanya, selama di alam barzakh, dia akan merasakan sesuatu yang mirip seperti orang tidur tersebut,yakni jasadnya tidak bergerak, tetapi roh-nya dapat merasakan siksa, gembira, sedih, dan perasaan atau kejadian lain. Menurut kalangan ahlus sunnah, siksa kubur dilakukan terhadap jasad itu sendiri setelah roh dikembalikan lagi oleh Allah ke jasadnya dengan kemahakuasaan-Nya, sekalipun jenazahnya sudah hangus di makan ulat dan cacing. Oleh sebab itu, suatu tindakan yang terburu-buru dan sangat naïf, apabila menyimpulkan sesuatu yang secara fisik lahiriah tidak dapat dilihat atau tidak ditangkap oleh pancaindera, adalah, tidak eksis, tidak wujud.

Argumen dalam dunia micrombiologi dapat membuktikan bahwa sesuatu yang tidak dapat dilihat atau tidak dapat di cerna oleh pancaindera adalah ada dan eksis. Dalam microbiologi ditemukan bahwa makhluk hidup yang bernama “mikroba” tidak dapat dilihat oleh mata, tetapi ia hidup, ada, dan eksis. Setelah ditemukan mikroskop, mikroba tersebut baru dapat dilihat. Pertanyaan berikutnya adalah apakah sebelum ditemukan mikroskop, makhluk tersebut tidak ada atau tidak hidup? Hal tersebut menunjukan bukti adanya materi yang tidak dapat di cerna, diraba dan dilihat, tetapi ia hidup, eksis dan benar adanya. Karenanya tidak aneh dan tidak mustahil apabila siksa kubur yang tidak dapat dilihat dan dicerna oleh pancaindera benar ada, eksis, dan terjadi secara nyata.

Bertolak dari logika dan penafsiran Said Nursi tentang kematian dengan didukung oleh argumen tentang adanya ruh, hadis Nabi saw tentang siksa kubur yang dinilai musykil oleh kelompok yang meragukan isinya adalah hadis shahih yang sebenarnya tidak bertentangan dengan logika dan akal manusia.

  1. Pemikiran filsafat naturalis

Menurutnya kematian di pandang sebagai proses perjalanan akhir dari kehidupan. Dengan mengandal kan rasio dan indera manusia, kematian merupakan wujud dari yang tidak terwujud, artinya wujud mati itu merupakan hakikat sebenarnya dari ketidak wujudan (ke-tiada-an) oleh sebab itu, “mati” bersifat tidak eksis, ada dapat di rasakan dan ia merupakan ada yang sebenar nya. Eksistensi manusia dapat di nikmati dengan ada nya “jiwa dan raga” dalam diri manusia yang memiliki potensi yang merasakan dalam kehidupan. Hal ini tidak ditemukan jika “jiwa dan raga” manusia yang sebenarnya sudah tidak ada karena dia sudah mati, tidak eksis. Eksistensi orang yang sudah mati dari perspektif being-nya tidak di akui, karena apa yang melekat dalam “sesuatu yang disebut mati”, yakni ke-tiada-an. Bertolak dari pemikiran filsafat naturalis ini, mereka menolak ajaran “kehidupan setelah mati” karena proses peralihan dari “hidup” ke “mati” adalah proses dari “ada” menuju “tidak ada”, dari yang “eksis” menuju “non eksis” dalam dunia islam pandangan seperti ini banyak dikembangkan oleh kaum mu’tajilah. [12]

  1. Menurut Sains

Ada seorang saintis Rusia bernama Dr. Azzacove yang telah secara tidak sengaja terekam suara-suara jeritan yang sedang mengalami siksaan jauh dibawah bumi. Beliau diberitakan memperoleh rekaman itu menggunakan super-sensitive michrophone. Pada awalnya kami hanya hendak mendengarkan super sensitive michrophone yang masuk ke dalam bilik-bilik atau lubang-lubang bumi dan reruntuhan galian.

Pada awalnya kami menyangka apa yang kami dapat itu adalah geselan dari alat-alat kami pada dinding-dinding perut bumi, tetapi suara ini menghancurkan seluruh logika kami.

Setelah beberapa penyesuaian kami mendapat kesimpulan bahwa suara ini berasal dari interior bumi, jadi seakan-akan di dalam perut bumi ini ada ruang lain yang berbeda dari tempat yang kami gali, dan dari ruangan tersebutlah kami tidak mempercayai apa yang kami dengar. Setelah penemuan yang sangat mengejutkan ini, setengah dari peniliti kami berhenti karena takut. Yang sangat mengejutkan lagi, bagi orang Soviet itu adalah setelah suara tersebut direkam , pada malam yang sama, keluarlah semacam gas atau kabut yang terang dari lokasi penggalian gas. Lalu Dr. Azzacove meneruskan penjelasan, “Mesin penggali tiba-tiba  berputar dengan sangat cepat ketika kami mencapai salah satu kulit bumi, suhunya menunjukan hingga 2000 derajah Farenhait, lalu kami mendekatkan mikrofon itu di sana untuk mendengarkan pergerakan bumi, tetapi yang terdengar adalah suara manusia, bahkan teriakan manusia dalam kesakitan.

Penjelajah dalam air yakni Jacques Costeau, dia juga perna mendengar suara jeritan manusia di dalam air ketika ia sedang menjelajah di dalam air.[13]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mugghiroh ibn Bardizbah, Shohih Bukhori jilid I (Damaskus: Daar ibn katsir) hal.463.

[2] A.J Wensinkh, Mu’jam al Mufahros jilid III (Madinah: Matba’ah biril 1955) hlm.434

[3] Ibnu Hajar al Asqolani, Tahjib at Tahjib juz 3 (muassasah ar-Risalah) hlm. 687

[4] Ibnu Hajar al Asqolani, Tahjib at Tahjib juz 4 (muassasah ar-Risalah) hlm. 357

[5] Ibnu Hajar al Asqolani, Tahjib at Tahjib juz 2 (muassasah ar-Risalah) hlm. 166

[6] Ibnu Hajar al-Asqolani, Tahjib at Tahjib juz 3 (Muassasah ar-Risalah) hlm. 338

[7] Ibnu Hajar al-Asqolani, Tahjib at Tahjib juz 4 (Muassasah ar-Risalah) hlm. 331

[8] Ibnu Hajar al-Asqolani, Tahjib at Tahjib juz 1 (Muassasah ar-Risalah)hlm. 216

[9] Ibid hlm. 519

[10] Munzier Suparta, Ilmu Hadis (Jakarta: Raja Gafrindo Persada, 2001), hlm. 128.

[11] Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-Asqolani, Fath al Baari Syarh Shahih al-Bukhari (Beirut: al-Maktabah al-‘Asriyyah 2005 M), hlm. 1841-1842.

[12] Ali Nizar, Hadis versus Sains memahami hadis-hadis musykil, (Yogyakarta: Teras 2008) hlm. 105

[13] https://www.google.co.id/amp/s/kumalaintan.wordpress.com/2011/11/11/hasil-rekaman-saintis-rusia-tentang-siksa-kubur/amp/