Tanqih al Qoul fii Syarh Lubab al Hadis

Latihan 3

Tanqih al Qoul fii Syarh Lubab al Hadis
(Syekh Nawawi al-Bantani)

Kelompok 6

Nama: -Muhamad Deden JS (1608307004)
– Syarifatul Munah (1608307015)
– Adeliawati Oktaviana (1608307019)

Deskripsi Kitab

Judul Kitab : Tanqih al Qoul fi Syarh Lubab al Hadis

Penulis: Abu Abd al-Mu’ti Muhammad Ibn Umar al- Tanara al-Jawi al- Bantan

Muhaqqiq:

Penerbit: Al-Haromain

Cetakan:

Tahun Terbit:

Kitab:

https://drive.google.com/file/d/1-X91R5Av1YICJT1Dp_rOcN1PeNG5RT4o/view

A. Biografi Syekh Nawawi al-Bantani

Syekh Nawawi al-Bantani memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad Ibn Umar al- Tanara al-Jawi al- Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan dikampung Tanara, Serang ,Banten pada tahun 1815 M/ 1230 H. Dan wafat pada tanggal 25 syawal 1314 H / 1897 M. Beliau dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khodijah, Ummu al Mukminin, istri Nabi SAW. Setiap tahun hari Jumat terahir bulan Syawal selalu diadakan acara haul untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi.

Ayahnya bernama Kiai Umar, Seorang pejabat penguluh yang memimpin Masjid. Dari silsilahnya, Syekh Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke 12 dari Maulana Syarif Hidayattullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon). Nasabnya bersambung dengan Nabi SAW. Melalui Imam Ja’far Al- Sadiq Imam Muhammad Al- Baqir, Imam Ali Zaenal Abidin, Sayyidina Husain, Fatimah Al- Zahrah.

Ketika usianya mencapai 15 tahun, Beliau pergi ke kota Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan kemudian bermukim disana serta berguru kepada para Ulama terkemuka seperti Syekh Nahrawi, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, dan Syekh Ahmad Dimiyati. Beliau juga berguru kepada Syekh Muhammad Khatib Al- Hambali di Madinah. Sekembalinya ia dari mekah, ia pun terus berguru para ulama, baik itu yang berasal dari jawi maupun timur tengah sampai tahun 1860 M. Diantara guru-gurunya yang dikenal adalah Syekh Ahmad Khatib Sambas, dll.

Setelah 30 lain lamanya beliau menimba ilmu bersama para ulama terkemuka (1830 M-1860M) , Beliau pun mengabdikan dirinya sebagai seorang pengajar sekaligus imam di Masjid al-Haram Mekah, kurang lebih selama10 tahun. Dan sebelihnya beliau banyak dihabiskan untuk mengarang kitab dan mengajar serta mendidik para santri sampai akhir hayatnya. Karena kemasyhurannya iamendapat gelar : A’yan Ulama, Sayyid ulama Al Hijaz, dll.[1]

Karya-karya beliau terbagi dalam7 kategori bidang ;yakni bidang tafsir, tauhid, fiqih, tasawuf, sejarah nabi, bahasa dan retorika. Kecuali bidang hadits yang ditulisnya hanya 1 kitab, yakni kitab Tankih Al-Qaul. Ulasan atas kitab lubab al- Haditsnya Imam Jalaludin Suyuti. Kitab ini membahas 40 keutamaan dan larangan, dimulai dengan keutamaan ilmu dan ulama.

B. Deskripsi Kitab Tanqih al-Qaul al-Hasis Fi Syarh Lubab al-Hadis

Dalam mensyarah kitab Tanqihul al-Qaul al-Hasis Fi Syarh Lubab al-Hadis, Imam Nawawi al-Bantani menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Khutbah al-Kitab. Pada Khutbah al-Kitab ini Imam Nawawi al-Bantani mengawalinya dengan basmalah kemudian dilanjutkan dengan hamdalah, syahadat, dan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya Imam Nawawi al-Bantani menjelaskan tentang latar belakang penulisan syarah Tanqih al-Qaul al-Hasis fi Syarh Lubab al-Hadis atas kitab Lubab al-Hadis karya Imam Jalal al-Din al-Suyuti.
  2. Langkah selanjutnya adalah penjelasan tentang makna-makna bab-bab.
  3. Setelah penjelasan bab secara keseluruhan, dilanjutkan dengan penjelasan masing-masing bab secara terpisah yang di dalamnya terdapat masing-masing sepuluh hadis.
  4. Tahap selanjutnya, Syekh Nawawi al-Bantanimenjelaskan makna hadis satu-persatu pada masing-masing bab, dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
  5. Menampilkanhadis per kalimat yang akan dijelaskan.
  6. Menjelaskan tentang jalur periwayatan hadis tersebut.
  7. Menjelaskan sebagian mukharrij dari hadis tersebut.
  8. Menjelaskan kualitas hadis.
  9. Membandingkan hadis dengan riwayat hadids lain yang satu tema untuk memberikan penguat terhadpa hadis yang sedang dijelaskan.
  10. Pada penjelasan bagian matan, Syekh Nawawi al-Bantani terkadang menjelaskan makna dengan didahului dengan I’rab Bahasa untuk memberikann tuntunan cara membaca kata yang dianggap mempunyai pengertian ganda
  11. Menjelaskan maknakata untuk menjelaskan pemahaman hadis keseluruhan.
  12. Syekh Nawawi al-Bantani terkadang menambah penjelsannya dengan menyertakan syair.[2]

C. Latar Belakang Penulisan

Salah satu tujuan utama Imam Nawawi al-Bantani menyusun Tanqih al-Qaul al-Hasis fi Syarh Lubab al-Hadis adalah menyahutipermintaan para jama’ahnya yang senantiasa mengikuti beberapa pengajiannya, disampping ia juga menyatakan bahwasanya yang mendorong beliau menulis syarah hadis terhadap kitab Lubab al-Hadis adalah karena belum adanya ulama-ulama (pada zamannya) yang telah men-syarah –nya, serta banyaknya masyarakat penduduk Jawa yang membicarakan isi kitab hadis ini (Lubab al-Hadis) karya Imam al-Suyuti.

D. Metodologi Syarah Hadits Syekh Nawawi dalam karyanya “Tanqih al Qaul Al- hasis Fi syarah Lubab Al-Hadits

Dalam menyusun kitab syarah hadits, seorang penyusn tentu menggunakan metode ,bentuk atau corak dalammelakukan pen-syarah-an. Tujuannya yakni memudahkan kepada pembaca dalam menangkap kandunganmakna darisebuah hadits yang disyarahi, agar tidak salah maksuddan tujuan.

Jumlah hadis secara kesuluruhan dalam kitab Lubab al-Hadis sebanyak 404 hadis. Namun, yang disyarah hanya 360 hadis, sedangkan 44 hadis sisanya hanya tercantumkan dalam kitab syarah-nya tanpa ada penjelasan dari Syekh Nawawi. Karena hadis-hadis tersebut sudah sangat jelas maksud dan tujuannya. Berikut ini rincian jumlah hadis dalam setiap bab pada kitab Tanqih al-Qaul al-Hasis fi Syarh Lubab al-Hadis.

Tabel. Jumlah hadis dalam kitab Tanqih al-Qaul al-Hasis fi Syarh Lubab al-Hadis

NO Nama Bab Jumlah

Hadis

Hadis

Yang

di Syarh

Hadis

Yang

tidak di Syarh

1 Keutamaan Ilmu dan Ulama 10 10
2 Keutamaan “Laa ila ha illallah” 10 10
3 Keutamaan “Bismillahirrahman” 10 10
4 Keutamaan Sholawat atas Nabi 10 9 1
5 Keutamaan Iman 10 10
6 Keutamaan Wahyu 10 10
7 Keutamaan Siwak 10 9 1
8 Keutamaan Azan 10 9 1
9 Keutamaan Shalat Berjama’ah 11 7 4
10 Keutamaan Jum’at 10 10
11 Keutamaan Masjid 11 8 3
12 Keutamaan Bersurban 10 8 2
13 Keutamaan Puasa 10 10
14 Keutamaan Ibadah Fardu 10 10
15 Keutamaan Ibadah Sunah 10 10
16 Keutamaan Zakat 10 6 4
17 Keutamaan Sedekah 10 10
18 Keutamaan Salam 10 10
19 Keutamaan Do’a 10 10
20 Keutamaan Istighfar 10 9 1
21 Keutamaan Berdzikir kepada Allah SWT 10 10
22 Keutamaan Bertasbih 10 9 1
23 Keutamaan Taubat 10 10
24 Keutamaan Fakir 10 9 1
25 KeutamaanNikah 10 8 2
26 Larangan Beratnya Zina 11 10 1
27 Larangan Beratnya homoseksual 10 5 5
28 Larangan meminum khamer 10 10
29 Keutamaan memanah 10 8 2
30 Keutamaan berbakti kepada orang tua 10 9 1
31 Keutamaan mendidik anak 10 6 4
32 Keutamaan tawadu’ 11 8 3
33 Keutamaan perdiam 10 10
34 Keutamaan menyedikitkan makan,minum,dan menganggur 10 7 3
35 Keutamaan menyedikitkan tertawa 10 10
36 Keutamaan menjenguk orang sakit 10 10
37 Keutamaan mengingat mati 11 10 1
38 Keutamaan mengingat kubur 10 8 2
39 Larangan meratapi mayat 10 9 1
40 Keutamaan sabra ketika tertimpa bencana 10 10
Total hadits 404 360 44

 

Syekh Nawawi sendiri dalam mensyarah kitab Lubab Al-Hadits syekh nawawi menggunakan metode Ijmali. Penggunaanmetode Ijmali oleh syekh Nawawi dalam kitab tanqih Al-Qaul, dikarenakan dengan alasan bahwa syarah dengan menggunakan metode tersebut terkesan sangat mudah dipahami karenamenggunakan Bahasa yang mudah, singakat dan padat sehingga dalam men-syarah Syekh Nawawi langsung menjelaskan kata atau maksud hadits dengan tidak mengemukakan pendapatnya secara pribadi.

Peryataan tersebut diatas menyebutkan secara eksplisip tujuan dari penulisan kitab ini serta metode yang digunakan yaitu metode Ijmali dengan penjelasan hadits yang ringkas tanpa penjelasan panjang lebar. Karena masyarakat jawa pada saat itu membutuhkan madel referensi seperti ini yang mudah untuk dikaji terutama bagi kalangan masyarakat awam.

Walaupun secara garis besar, metode yang digunakan oleh syekh nawawi adalah ijmali. Namun ia juga tidak menafikan pendekan yang lain yang merupakanbagian dari metode takhfifi dengan menjelaskan hadits dengan  aspek kebahasaan serta membandingan dengan riwayat dan pendapat ulama yang lain. Hanya saja, penggunaan metode takhfifi digunakan pada hadits-hadits tertentu.[3]

Sebagai contoh bahwa Syekh Nawawi dalam menjelaskan tentang sebuah hadis memakai metode ijmali, diantaranya terlihat pada hadis-hadis sebagai berikut:

  1. Bab ke-2 tentang Keutamaan Laa Ilaaha Illallah pada hadis ke-9, Syekh Nawawi men-Syarah hadis di atas adalah sebagai berikut;

(قال صلّي اللّه عليه و سلّم : من قال له اله اللّه محمّد رسول اللّه مرّة غفر له ذنوبه) أي تلك الذّنوب (مثل زبد البحر) بفتح الزّيد والباء أي ما ئه اومايعلووجهه من رغوة و عيدان ونحو هما والاوّل اولي لأنّ المراد كناية عن المبالغة في الكثرة كما قاله عطيّة الأجهوريز

Artinya :

Rasulallah Saw. Bersabda : “Barangsiapa yang mengucapkan la ilaha illallah satu kali, maka dosa-dosanya (maksudnya dosakecilnya) diampuni, sekalipun (dosa-dosa itu) laksana buih di lautan atau Zabad dibaca dengan harakat fathah,yang menunjukan arti ‘air laut’ atau ‘buih’ serpihan kayu dan semacamnya yang berada diatas permukaan laut. Pengertian pertama yakni ‘air laut’ lebih utama, karenayang dikehendaki dari perumpamaan ‘buih pada permukaan laut’ adalah kinayah tentang begitu banyaknya volume air laut, sebagaimana dikemukakan oleh Atiyyah al Ajhuri

Imam Nawawi al-Bantani dalam menjelaskan hadis tersebut di atas yang berkaitan dengan keutamaan orang yang membaca Laa Ilaha Ilallah, menjelaskan secara ringkasdan global. Penjelasan tersebut hanya disertai dengan penjelasan kata-kata yang perlu dijelaskan. Misalnya, dosa yang dimaksud adalah dosa kecil dan air laut yang dimaksud adalah bentuk kinayah (kata kiasan) dari sesuatu yang sangat banyak.

[1] Samsul Munir Amin, Sayyid Ulama’ Hijaz: Biografi Syeikh Nawawi al-Bantani, (Jakarta:Lentera Ilmu, 2001), hlm 15.

[2] Syekh Nawawi al-Bantani, Tanqih al-Qaul. (Al-Haromain)

[3] Fakhri Tajuddin Mahdy, Metodologi Syarh Hadis Nabi SAW Telaah kitab Tanqih al-Qaulal-Hasis fi Syarh Lubab al-Hadis.( Makasar: ALauddin, 2016) hlm 38.